Minggu, 28 Mei 2017

Upaya Petani Tebu terhadap Pak Lurah, KUD, dan Pabrik Gula dalam Cerpen Rendemen Karya M. Shoim Anwar

Dalam kehidupan nyata, masyarakat desa memang kebanyakan bekerja sebagai petani. Bahkan di desa membuat suatu kelompok tani guna mempermudah penjualan dan mendapatkan pupuk serta jenis tanaman yang ingin ditanam oleh petani misalnya saja padi atau tebu. Memang kelompok tani selalu bertanggungjawab terhadap proses bertani dari awal penanaman hingga panen tiba. Terkadang juga ada sebagian para petani yang menyewakan lahan sawahnya kepada orang lain atau perusahaan guna untuk menyejahterahkan hidupnya. Namun, kadang malah sebaliknya tidak menyejahterahkan malah tertipu terhadap perusahan itu dan mengakibatkan konflik antara perusahaan dan petani tersebut. Cerpen Rendemen karya M. Shoim Anwar sangat lekat sekali dengan kehidupan nyata. Shoim Anwar menghubungkan cerita ini dengan realitas kehidupan nyata dengan menggunakan bahasa yang dapat dinikmati oleh pembaca. Cerpen Rendemen menceritakan tentang Suparlan seorang petani tebu di sebuah desa yang awalnya patuh terhadap pamong desa serta KUD untuk menanam dan menjual hasil tebunya kepada KUD. Suatu ketika Suparlan mendapat berita dari KUD bahwa tebunya harus segera di tebang karena jadwal penebangan dari pabrik gula sudah tiba kemudian KUD tersebut menyuruh para petani untuk segera menebang tebunya untuk segera dibawa ke pabrik gula karena pabrik gula itu membutuhkan stok tebu sekarang. Namun Suparlan menolak ketika disuruh menebang tebunya alasanya karena tebunya belum waktunya untuk ditebang dan rendemennya masih rendah. Tetapi pihak KUD dan kepala desa selalu memaksa kepada Suparlan untuk segera menebang tebunya tersebut agar pihak KUD dan pabrik gula itu tidak akan rugi. Suparlan tetap mempertahankan tebunya tersebut hingga akhirnya tebunya kering dan tidak bisa dipanen. Sejak itu konflik antara KUD dan Suparlan dimulai dan Suparlan terpaksa dipanggil ke kantor kepala desa untuk membayar hutang yang dulu digunakan untuk modal penanaman. Hal ini dibuktikan dengan kutipan cerpen berikut.
Suparlan sepertinya memang mebiarkan tanaman tebu itu. Tanaman yang sama disekitarnya sudah ditebang. Lelaki itu tetap bertahan karena dia tidak ingin jerih payahnya selama berbulan-bulan disedot begitu saja oleh orang lalin. Dia telah mengalami peristiwa itu bertahun-tahun, seperti juga para petani tebu yang lain.

Dari kutipan tersebut penulis memaparkan bahwa Suparlan awalnya memang sangat patuh dan nurut terhadap KUD, namun setelah bertahun-tahun ia merasa kalau hasil panennya tetap dan tidak ada peningkatan. Malah sebaliknya pihak KUD lah yang selalu meningkat dan menjadi kaya. Sehingga panen tahun ini Suparlan tidak menuruti apa kata KUD dan mempertahankan tebunya karena tebunya belum waktunya untuk ditebang.
perhatikan kutipan berikut!
“Katanya yang menentukan rendemen itu para ahli gula, Kang?”
“Ya, tapi mereka adalah orang-orang pabrik gula. Petani tidak tahu. Aku yakin ada permainan di sini. Masak rendemen tebu dari tahun ke tahun selalu turun. Padahal tebunya sangat baik. KUD ternyata hanya menerima saja, tak ada pembelaan. Bahkan petani selalu diharapkan untuk sabar dan bekerja terus. Hasil yang diterima petani semakin kecil. Itu pun masih dipotong oleh KUD sebagai ongkos angkutan dan nimbang. Petani juga harus bayar lagi jika tebunya ingin digiling lebih dulu oleh pabrik. Ini jelas permainan KUD.”

Dari kutipan di atas menggambarkan bahwa KUD selalu merintah rakyat untuk bekerja terus menerus demi keuntunganya dan pabrik gula tersebut. Memang modal awal penanaman tebu didapatkan dari pabrik gula melalui KUD sehingga hasilnya harus dijual ke pabrik gula tersebut. Tetapi tidak sepantasnya KUD memperlakukan petani tebu dengan seenaknya sendiri. Petani tebu di sini bekerja dengan semaksimal mungkin bahkan hasil tebunya juga sangat bagus tetapi ketika di panen KUD malah membuat pernyataan kalau hasil tebunya menurun dan hasilm yang didaptkan petani juga kecil belum juga harus dipotong dengan biaya angkutan dan nimbang. Pemikiran Suparlan terhadap KUD  memang masuk akal karena dari tahun ke tahun harusnya hasil panen tebu tersebut makin meningkat tidak semamin menurun. Karena kinerja Suparlan dan para petani juga sudah maksimal kerja keras. Jika dihubungkan dengan realita seperti pada berita petani kelapa sawit di Jambi, para petani dipaksa untuk memasukkan hasil panen ke pabrik, selain itu aparat juga mengharuskan para petani menjual buah kelapa sawit kepada perusahaan, sehingga para petani mengancam jika perlakuan itu masih diterapkan maka petani menolak untuk panen. karena mereka kecewa hasil yang didapat dianggap masih merugikan petani karena petani tidak boleh menjual hasil panennya, dan perusahaan tetap melakukan pemotongan 30 persen hasil panen sawit.
Perhatikan kutipan berikut!
“Hidup saya sekarang sudah di penjara, Pak Lurah. Saya seperti sudah tidak punya kebebasan. Saya telah dipaksa untuk menanam tebu, tidak boleh menanam yang lain. Padahal itu sawah saya sendiri. Tolong Pak Lurah mengerti. Waktu menebang pun saya tidak punya kebebasan, segalanya sudah ditentukan. Minta diundur dua bulan saja tidak boleh. Soal menjual saya juga tidak bebas. Tebu saya harus dijual ke pabrik gula yang di maui KUD. Rendemen ditentukan sepihak. Harganya sudah dibuat mati. Pak Lurah, pabrik gula dan KUD telah memenjara saya. Keringat saya sebagai petani tebu telah diperas.”

Dari kutipan di atas menjelaskan bahwa pihak KUD, Pak Lurah dan pabrik tebu telah berbuat seenaknya terhadap para petani tebu. Mereka seolah-olah atasan yang semua perintahnya harus dipatuhi. Tanpa disadari kalau yang mereka perintah itu adalah seorang petani tebu yang secara tidak langsung bisa membuat pabrik tebunya bisa maju dan berkembang, karena jika tidak ada petani tebu maka pabrik gula juga tidak bisa memproduksi gula dan pasti akan bangkrut. Suparlan merasa kalau dirinya sudah diperlakukan dengan seenaknya karena seakan-akan dirinya dipenjara dan tidak boleh menanam yang lain selain tebu. Padahal lahan yang ia tanami itu adalah miliknya sendiri bukan milik opabrik tebu, Pak Lurah atau KUD. Jika dihubungkan dengan realita banyak sekali konflik antara petani dengan perusahaan. Petani tebu ditipu oleh perusahaan hingga lahan tebu milik petani bisa dikuasai oleh perusahaan tersebut. Sampai akhirnya para petani diminta oleh perusahan tersebut untuk bekerja keras dan rela menjadi buruh tebang tebu dengan upah yang sangat minim padahal ia bekerja dilahan miliknya sendiri. Bahkan ada yang terpaksa menggarap pinggiran lahan tebu demi keuntungan perusahaan tersebut. Sehingga harapan para petani tebu untuk bisa hidup enak dan sejahtera belum tercapai yang ada malah makin melarat dan orang-orang yang mempunyai perusahaan itu semakin kaya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar