Senin, 08 Mei 2017

"Batu Akik Keberuntungan dalam Cerpen Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup karya M. Shoim Anwar"

Dalam kehidupan nyata, sering kita jumpai peristiwa atau berita tentang fenomena batu akik. Baik peristiwa itu dikabarkan dalam bentuk media elektronik maupun media cetak. Jika menilik jauh lagi, tren batu akik sebenarnya sudah berlangsung sejak zaman dahulu. Pada zaman dahulu, siapa saja yang mengenakan batu akik diyakini bisa membuat pemakainya menjadi ramah, jujur, dan berpengetahuan luas. Singkatnya batu akik memiliki daya magis yang dapat memperluas perspektif kehidupan. Sebagian orang menyakini batu akik bisa menjadi penolak bala, batu akik berkhasiat menyembuhkan berbagai penyakit, orang Arab memakai batu akik agar terhindar dari musibah dan masih banyak lainnya. Cerpen Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup Karya M. Shoim Anwar sangat lekat sekali dengan dunia nyata. Shoim Anwar menghubungkan cerita ini dengan realitas kehidupan nyata dengan menggunakan bahasa yang dapat dinikmati oleh pembaca. Cerpen Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup mengisahkan tentang kehidupan Gus Usup yang selalu memakai cincin akik di jari manisnya dan cincin itu seperti sisik naga. Di desanya, Gus Usup selalu dihormati oleh masyarakat sekitar, karena dianggap bukanlah orang sembarangan. Ia terkenal ramah dan akrab terhadap warga dibanding dengan saudara-saudaranya.
Gus Usup bukanlah orang biasa. Kami menghormatinya sebagaimana kami menghormati orang-orang terhormat. Penghormatan terhadap Gus Usup telah dilakukan para tetua sehingga tak ada alasan buat kami untuk tidak berlaku hormat padanya. Ketika dia melintas di jalan, orang-orang menyapanya dengan penuh rasa hormat, sedikit membungkukkan badan, menanyakan mau ke mana, hingga mempersilakan mampir ke rumah. Sebuah kehormatan luar biasa bila Gus Usup berkenan singgah dan menyeruput kopi yang kami suguhkan. Tentu saja ini jarang terjadi. Gus Usup menjawab sapaan kami dengan tersenyum sambil terus mengayuh sepedanya.

Dari kutipan di atas penulis memaparkan bahwa Gus Usup memang sosok yang disegani oleh masyarakat dan Gus Usup bukan orang sembarangan. Seperti yang kita ketahui kalau di desa kita ada sesepuh seperti kiyai atau para ulama pasti semua warga akan menghormatinya meskipun kiyai tersebut masih muda dan belum menikah. Karena mereka menganggap sosok yang dihormatinya itu bisa menjadi contoh yang baik buat kehidupan mereka.
perhatikan kutipan berikut.
“Assalamu’alaikum, Gus,” begitulah kami menyapa ketika beliau lewat. Salam itu dijawabnya dengan sopan pula.
“Mampir dulu, Gus.”
“Inggih, terima kasih,” jawabnya lembut.

Dari kutipan di atas menggambarkan bahwa Gus Usup memang sosok yang dihormati dan ramah dan mudah akrab terhadap warga. Dilihat dari jawaban Gus Usup terlihat bahwa Gus Usup tidak sombong terhadap sesama, Gus Usup seorang yang bijak sana dan bisa dijadikan panutan oleh warga di desanya. Jika dihubungkan dengan realita banyak orang tua jaman sekarang yang menyuruh anaknya untuk mencontoh orang-orang yang dianggap santun dan bijaksana meskipun orang itu adalah anak kecil dan temannya anaknya sendiri.
“Sejak anak-anak, Gus Usup itu suka main dengan anak-anak kampung,” cerita Guk Mat sebagai teman sepermainannya.
“Apa kesukaannya, Guk?” kami bertanya.
“Menghanyutkan diri dengan rakit dari batang pisang, lalu mandi bersama-sama di Kali Dan sambil belajar renang gaya sungai,” lanjut Guk Mat sambil memperagakan renang gaya sungai. “Gus Usup juga suka mencari batu-batu kecil di dasar sungai.”
“Untuk apa batu?”
“Katanya itu batu akik.”

Dari kutipan di atas menggambarkan kalau Gus Usup memang orang yang mudah akrab dan tidak memilih-milih teman dan kebiasaanya dulu mencari batu-batu kecil di sungai dan dijadikan batu akik, meskipun sekarang ia sudah tidak kanak-kanak lagi tapi ia tetap seperti dulu suka bergaul dengan orang-orang di desanya dan tidak ada perbedaan kelas diantaranya. Jika dihubungkan dengan kehidupan sekarang seperti yang kita ketahui banyak sesepuh desa yang gemar mengoleksi batu akik dan mereka mencari batu akik tersebut tidak sendiri mereka mencari batu itu bersama-sama sehingga tidak ada perbedaan diantara sesepuh atau kiyai dengan para warga.
Dalam cerpen ini juga diceritakan kalau Gus Usup suka bermain kartu jika ada orang hajatan, konon Gus Usup selalu menang dalam permainan itu jika ia memakai batu akik tersebut. Tetapi hasil kemenangannya selalu dibagikan kembali kepada para lawannya yang kalah. Oleh karena itu, semua orang percaya bahwa batu akik milik Gus Usup itu sudah diisi dengan bacaan tertentu.
Perhatikan kutipan berikut!
“Sisik naga dilawan,” kata Cak Nan sambil meraih gelas kopi.
“Giliranku menang.” Wak Marsud menepuk-nepuk sisik naga di jari Gus Usup. Gus Usup hanya tersenyum.
“Habis recehan saya, Gus,” kata Guk Mat.
“Masih sore kok sudah habis,” Gus Usup menimpali. “Tukarkan!”

Dari kutipan di atas, orang-orang yang bermain memang mempercayai kalau cincin akik milik Gus Usup itu menjadi penyebab kemenangan Gus Usup sehingga mereka dengan gamplang bicara kalau tidak ada yang bisa mengalahkan cincin akik yang seperti sisik naga itu. Dalam kehidupan sekarang juga banyak orang yang mempercayai kalau cincin akik bisa dijadikan cimat dan keberuntungan. Banyak yang menggunakan dan mengoleksi cincin akik untuk dijadikan cendera mata, tidak hanya itu ada pula yang mempercayai kalau cincin akik bisa dijadikan untuk menyembuhkan penyakit.
Guk Mat teringat, di tengah permainan tadi dia juga sempat menyembunyikan uang kemenangan di saku jaket Gus Usup yang dipakainya. Uang itu segera dikeluarkan. Ah, jumlahnya makin banyak pula. Kantong saku jaket sebelah kiri telah dirogohnya. Kini dia berganti merogoh saku jaket sebelah kanan. Terasa ada benda aneh di tangannya. Segera dikeluarkan. Guk Mat terjingkat. Sisik naga! Akik Gus Usup itu ternyata ikut tertinggal di saku jaketnya. Entah ini disengaja atau tidak oleh Gus Usup. Mata Guk Mat tak berkedip melihatnya. Ada getaran di jemarinya.

Dari kutipan di atas, terlihat kalau Guk Mat memang menang dalam permainan itu tanpa adanya Gus Usup. Tetapi Guk Mat merasa kalau kemenangannya ada kaitannya dengan cincin akik sisik naga milik Gus Usup, karena kebetulan Gus Usup sebelum pulang kerumah menitipkan jaket pada Guk Mat dan Guk Mat tidak tahu kalau di saku jaket Gus Usup ada cincin akiknya. Sehingga ia selalu memikirkan kalau kemengannya itu karena cincin akik sisik naga milik Gus Usup. Kini cincin akik milik Gus Usup berada di tangan Guk Mat dan lama-lama Guk mat berkeinginan memiliki cincin akik tersebut. Jika dihubungkan dengan kehidupan sekarang tak sedikit orang yang memakai cincin akik, bahkan ada yang menggunakan cincin akik untuk dijadikan jimat tetapi harus diisi dengan bacaan terlebih dahulu agar batu akik tersebut bisa menjadi sakti. Fenomena itu mungkin bagi orang yang tidak percaya itu mustahil tapi bagi orang yang mempercayai itu adalah nyata dan memang benar ada jika batu akik bisa dijadikan jimat. Pada zaman dahulu orang-orang Arab dan Persia memakai cincin batu akik di jari manis mereka. Uniknya batu akik tersebut diukir ayat-ayat tertentu yang diambil dari Al-Quran dan juga simbol-simbol  tertentu. Dengan memakai cincin batu akik yang seperti itu mereka semua percaya bahwa batu akik itu akan menyelamatkan mereka dari bahaya. Keyakinan seperti itu hingga kini masih ada dan masih banyak orang-orang yang percaya bahwa batu akik bisa menghindarkan seseorang dari musibah.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar