Begitu banyak macam realitas kehidupan yang tertoreh dalam bentuk karya sastra. Ketika menemukan peristiwa yang memilukan, pengalaman yang menggelitik, kejadian nan unik atau eksentrik, dan hal-hal baru yang menggigit, pengarang mengeksplorasi semuanya itu dalam bentuk karya sastra.
Dalam kehidupan ini tentu ada saatnya kita benar-benar diposisikan berat untuk memilih ketika kedua pilihan tersebut harus kita pilih salah satunya, namun ketika kenyataan mengharuskan kita memilih untuk mengikuti semua perintah seorang atasan maka dengan berat hati, kita harus memilih untuk melaksanakan perintah tersebut meskipun perintah yang diberikan kepada kita adalah perintah yang salah.
Cerpen Sepatu Jinjit Aryanti karya M. Shoim Anwar merupakan hasil karya sastra yang mengabstraksikan realitas kehidupan seorang pegawai dengan atasannya. Shoim Anwar sebagai pengarang cerpen ini menggugah pembaca dengan menampilkan problema kehidupan seorang wanita yang bernama Aryanti, berpredikat sebagai seorang caddy di lapangan golf, akan tetapi karena Aryanti mengetahui dan menjadi saksi mahkota terkait kasus pembunuhan orang penting yang direncanakan maka kehidupan Aryanti sekarang menjadi tidak bebas dan tinggalnya selalu berpindah-pindah dengan penjagaan seorang pengawal agar Aryanti tidak diketahui oleh pemburu berita. Sehingga Aryanti harus mengikuti semua perintah dan skenario yang sudah dimainkan yang juga mempertaruhkan nyawanya sendiri. Perhatikan kutipan berikut:
“Kau merindukan siapa?” Aku membuka pembicaraan lagi. Dia terdiam beberapa saat. Dipegang-pegang pipi kirinya bagian bawah. Sejenak dia melepas kaca mata yang mulai terbiasa digunakan.
“Kau rindu dengan dia?” kembali aku membuka tanya. Aryanti membalik pandang ke arahku dengan pelan.
“Siapa yang Bapak maksud?” tampak matanya berkedip sayu.
“Kau telah melakukannya. Jangan kau Jilat kembali,” kataku
Aryanti terdiam beberapa lama. Dia makin fokus menatapku. Ada kekuatan di matanya kali ini. Perempuan itu mendekat.
Tak akan saya jilat lagi karena sudah tak mungkin. Tapi apakah tidak boleh saya mengingatnya?”
“Kau tidak memiliki banyak kata untuk itu, “ aku menyambungnya. “ Hanya ada satu yang aku ingat akan kata-katamu.”
“Apa itu Bapak?” Kali ini Aryanti membalasnya dengan cepat.
“Harus tega walau sangat berat.”
Dari kutipan di atas tampak jelas sekali bahwa Aryanti sangat menyesal dan tidak tega terhadap apa yang sudah dilakukannya, ia selalu ingat dengan kejadian-kejadian yang menimpanya yang membuat dirinya tega menjebak lelaki yang selama ini sudah membuat dirinya senang dan bahagia. Perhatikan kutipan berikut.
Aku adalah bagian dari persekongkolan itu. Tapi aku dalam posisi tak berdaya karena perintah atasan yang tak boleh ditolak. Aku tetaplah seorang manusia yang mempunyai pikiran dan rasa yang waras. Aryanti tentu juga demikian. Dia dalam posisi tak berdaya. Memang aku dan Aryanti adalah bagian dari pelaku persekongkolan itu.
Dari kutipan di atas Aryanti tidak memiliki pilihan lain untuk menolak perintah atasan yang tidak boleh ditolak karena dia hanya seorang bawahan dan dia dalam posisi yang tak berdaya. Sehingga tega ataupun tidak tega Aryanti harus tetap melakukannya meskipun dengan sangat berat. Tokoh aku dan Aryanti memang bersengkongkol, tapi mereka melakukan hal itu bukan untuk kepentingan mereka sendiri. Akan tetapi dalam keadaan seperti itu Aryanti sangat menderita karena tidak boleh berkomunikasi dengan keluarga dan teman-temannya. Jalur komunikasinya telah disadap sehingga bisa dipantau lewat layar monitor. Perhatikan kutipan berikut.
Tiba-tiba pintu diketuk dari luar. Aku dan Aryanti saling memandang. Ketukan itu terdengar kembali. Aku memberi isyarat, lalu bangkit ke arah pintu untuk membuka. Dua lelaki sudah berdiri di mulut pintu. Lamat-lamat sepertinya aku sudah pernah melihat wajah salah seorang di antaranya. Tapi entah di mana. Yang jelas di tanah air. ’’ Chek out sekarang!” katanya tanpa berbasa-basi. Pertanyaan-pertanyanku tak dijawabnya. Intinya kami harus berkemas dan meninggalkan hotel ini secepatnya. Tak ada pilihan lain, kami keluar menuju resepsionis dengan diawasi dua lelaki tadi.
Dari kutipan di atas, menggambarkan bahwa ketika tokoh aku dan Aryanti berada di dalam ruangan tiba-tiba ada dua orang lelaki yang mengetuk pintu dan lelaki tersebut menyuruh Aryanti dan tokoh aku untuk berkemas pergi meninggalkan hotel tersebut. Tokoh aku sepertinya mengenali dua lelaki tersebut tapi tokoh aku tidak terlalu banyak berpikir karena tokoh aku dan Aryanti harus mematuhi apa yang telah diucapkan dua lelaki tersebut untuk segera chek out dan berkemas. Setelah berkemas Aryanti dan tokoh aku diberi dua tiket pesawat dan harus terbang pada malam itu juga. Kemudian Aryanti dan tokoh aku tersebut dijemput untuk diantar ke bandara untuk terbang ke tanah air tapi tidak ke ibu kota melainkan ke Balikpapan. Mereka tidak tahu skenario apa lagi yang telah dibuat yang mereka tahu hanyalah mengikuti perintah atasan demi untuk menutupi borok orang-orang di sana.
Dari sini seakan jelas sekali bahwa penulis ingin menggambarkan sebuah masalah yang mungkin sering melanda hubungan antara atasan dan bawahan serta orang-orang penting lainnya. Karena sebuah kasus yang bisa membuat seorang atasan bisa masuk penjara karena ada salah satu bawahannya yang mengetahui dan bisa menjadi saksi atas perbuatan yang telah dilakukannya kepada orang-orang penting.
Dari beberapa kutipan yang telah dipaparkan, cerpen Sepatu Jinjit Aryanti memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dalam cerpen ini adalah M. Shoim Anwar mengangkat cerita ini berdasarkan kejadian atau fenomena sosial yang sering terjadi dalam masyarakat menggunakan bahasa yang mudah dipahami, terdapat tokoh-tokoh pewayangan serta kerajaan yang diselipkan di tengah-tengah cerita membuat pembaca ikut terbawa suasana pada masa itu, serta terdapat unsur percintaan. Kekurangan dalam cerita cerpen ini adalah ketidakjelasan tokoh yang dibunuh karena dalam cerita tersebut status korban hanya sebagai orang yang paling dekat dengan Aryanti, apakah si korban itu suami, pacar, atau kerabat masih belum diketahui.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar