Pada cerpen “Tahi Lalat di Dada Istri Pak Lurah” Karya M. Shoim Anwar, banyak mengkritik dalam segi sosial. Dalam cerpen tersebut menceritakan istri Pak Lurah yang memiliki tahi lalat di dadanya dan sudah mulai menyebar seperti wabah. Tokoh aku mulai mendengar berita itu dari temannya yang bernama Bakrul, meski berita itu rahasia tapi menurut tokoh aku berita itu pasti menyebar karena menyangkut orang nomor satu di desanya.
“Di sebelah mana tahi lalatnya?” aku mencoba mengorek kejelasan.
“Besar?”
“Katanya sebesar biji randu.”
“Ooo...,” aku manggut-manggut.
Dari kutipan di atas tampak jelas bahwa tahi lalat di dada istri Pak Lurah memang ada tetapi tokoh aku sepertinya masih belum percaya akan keberadaan tahi lalat tersebut karena dalam kutipan di atas tokoh aku masih mencari informasi yang tepat tentang adanya kabar kalau di dada istri Pak Lurah ada tahi lalatnya. Meskipun orang-orang yang ada di desanya selalu membicarakan tentang istri Pak Lurah dan berita itu menjadi topik utama sebagai bahan obrolan orang-orang. Hingga berita itu menyebar luas ke wilayah lain.
“Di dada istri Pak Lurah ada tahi lalatnya ya?” pertanyaanditeriakkan salah seorang warga. Kali ini aku mencoba menahan diri, tanpa memberi jawaban atau kode.
“Di sebelah kiri ya?” teriakkan itu dilanjutkan
“Sebesar biji randu ya?”
Saat ada orang lewat dan masih belum yakin akan keberadaan tahi lalat di dada istri Pak Lurah pasti orang-orang yang ada di wilayah itu selalu melontarkan pertanyaan dan langsung diteriakkan. Karena tokoh aku percaya bahwa cerita tersebut makin seru dan tidak terbebani karena hukum gosip pun berlaku.
“Tuh kelakuan istri lurahmu!”
“Perempuan kayak gitu jadi Bu Lurah!”
“Rombengan!”
“Prek!”
Kutipan di atas memang termasuk kata-kata yang tidak baik untuk diucapkan. Tetapi karena adanya berita tahi lalat di dada istri Pak Lurah orang-orang desa seakan makin berani untuk melontarkan kata-kata yang kurang baik itu. Kini orang-orang itu makin berani mengejek dan mengolok-olok hingga citra istri Pak Lurah itu direndahkan.
“Begitu kog dibicarakan. Gak pantes,” kata istriku.
“Tak ada gosip tanpa api,” aku membalas.
“Kalau toh benar, pasti orang dekat yang mula-mula menyebarkannya.”
“Ya gak mungkinlah kalau Pak Lurah,” istriku menyengah.
“Tentu bukan dia, tapi orang yang pernah mengetahui dengan pasti.”
Memang benar ketika istri dari tokoh aku itu berbicara, “Begitu kog dibicarakan. Gak pantes,” karena kata-kata yang kurang baik itu dilontarkan apalagi di depan orang banyak dan ada juga anak kecilnya maka akan menimbulkan pertikaian jika orang yang dibicarakan itu mengetahuinya dan bisa menyakiti perasaan orang yang dimaksud yaitu Bu Lurah. Tetapi ketika tokoh aku menjawab pertanyaan sang istri tokoh aku juga ada benarnya karena memang jika tidak ada gosip tanpa api, jadi tidak ada masalah tanpa penyebab. Mungkin orang-orang yang ada di desa itu mengetahui tentang kelakuan istri Pak Lurah di luar sana yang kurang baik. Sehingga mereka punya bukti yang kuat dan mereka selalu membicarakan tentang istri Pak Lurah tanpa berbasa basi lagi.
Sindiran itu kembali dilontarkan saat mendekati masa pendaftaran calon lurah. Ternyata berita tentang tahi lalat yang di dada istri Pak Lurah belum juga menyurut, semakin hari semakin menyebar. Bahkan yang orang-orang bicarakan tidak hanya tahi lalat tetapi mereka juga membicarakan soal telinga, pipi, bibir, leher, perut, bokong, paha, hingga sekujur tubuh istri Pak Lurah mereka bicarakan. Bakrul sengaja memberi bumbu pembicaraan ke arah yang maikn tabu, disertai pula dengan gerakan yang erotis, memperagakan seperti memacu kuda, menirukan suara istri Pak Lurah yang manja, mendesah, dan pada akhirnya orang-orang pun spontan menertawakannya seperti pada kutipan “Gak kuat aku, cuuuk...cuk...”
Selain dilihat dari segi sosial cerpen ”Tahi Lalat di Dada Istri Pak Lurah” karya M. Shoim Anwar juga bisa dikritik dari segi politiknya. Pengarang memunculkan status atau kedudukan sangat mempengaruhi suatu kehidupan. Tokoh Aku merasa kalau dirinya dan warga desa diperlakukan Pak Lurah seperti kompeni karena Pak Lurah selama menjabat, tidak sedikit warga yang kehilangan sawah ladangnya dan berganti dengan perumahan mewah. Warga yang tanahnya berada di tempat strategis, melalui Pak Bayan atau sekretaris desa, dirayu untuk menjual tanahnya yang strategis. Pak Lurah selalu membujuk warga yang lain dengan cara memanggilnya ke kantor kelurahan. Tokoh aku sangat yakin kalau Pak Lurah dapat keuntungan yang banyak dari presentase diam-diam antara dia dengan pihak pembeli.
“Kalau tidak mau menjual akan dipagari oleh pihak pengembang perumahan,” begitulah kata-kata intimidasi yang dilontarkan Pak Bayan kepada penduduk.
Kutipan di atas memang ada unsur politiknya karena jika para penduduk tidak mau menjual sawah miliknya pihak pengembang perumahan akan memagari sawah tersebut. Dengan perkataan tersebut jelas para warga merasa khawatir kalau sawahnya akan berkurang kalau tidak segera dijual. Sehingga para warga akhirnya mau menjual sawah yang dimilikinya tersebut. Pak Lurah pun sering pamer bahwa pembangunan diwilayahnya berjalan dengan cepat, rumah-rumah bagus kini dimiliki penduduknya, mobil juga keluar masuk. Sedangkan di sini tokoh aku tetap kukuh untuk tidak mau menjual sawah miliknya, yang ada tokoh aku sempat berdebat dengan Pak Bayan kalau tokoh aku berharap kalau Pak Lurah mestinya memperbaiki kehidupan warganya agar makmur, diciptakan lapangan kerja baru, tidak malah mengancam agar rakyat menjual tanahnya karena tidak ada seorangpun warga yang mampu beli perumahan itu sedangkan yang bersengkongkol dapat keuntungan berlipat tapi rakyatnya makin jatuh melarat.
“Jalan pasti dibuatkan,” Pak Bayan menuding ke samping.
“Tapi itu jalan untuk perumahan sendiri. Ingatkan Pak Lurah, jangan hanya berbaik-baik menjelang pemilihan, ngasih duit dan kain, setelah itu rakyat dilupakan karena sibuk mencari pengembalian modal. Dengar tuh gunjingan orang-orang!”
Kutipan di atas, tokoh aku memang terlihat sangat kesal kepada Pak Bayan yang selalu merayu-rayu kepada tokoh aku untuk segera menjual tanahnya. Tetapi tokoh aku tidak mau menjual tanahnya tersebut, malah tokoh aku mengungkit-ungkit masa di mana Pak Lurah baik hati kepada warga saat menjelang pemilihan. Memang semua itu dirasakan oleh semua warga desa. Dan memang benar para pejabat sekarang hanya manis di awal, buat janji-janji tapi tidak pernah ada buktinya. Mungkin itu yang dirasakan oleh tokoh aku dalam cerpen Tahi Lalat di Dada Istri Pak Lurah karya M. Shoim Anwar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar