Cerpen merupakan salah satu jenis karya sastra yang memaparkan kisah atau cerita mengenai manusia beserta seluk beluknya lewat tulisan pendek atau singkat. Sosiologi sastra merupakan pendekatan yang bertolak pada orientasi kepada semesta, namun bisa juga bertolak dari orientasi kepada pengarang dan pembaca. Menurut pendekatan sosiologi sastra, karya sastra dapat dilihat hubungannya dengan kenyataan, sejauh mana karya sastra itu mencerminkan kenyataan. Kenyataan di sini mengandung arti yang cukup luas, yakni segala sesuatu yang berada di luar karya sastra dan yang diacu karya sastra. Teori sosiologi sastra tidak semata-mata digunakan untuk menjelaskan kenyataan sosial yang dipindahkan atau disalin pengarang dalam sebuah karya sastra. Teori ini juga digibahkan untuk menganalisis hubungan wilayah budaya pengarang dengan karyanya, hubungan karya sastra dengan suatu kelompok sosial, hubungan antara selera massa, dan kualitas suatu ciptaan karya sastra serta hubungan gejala-gejala sosial yang timbul di sekitar pengarang dengan karyanya, Rene Wellek dan Austin Warren (dalam Semi, 1989:53).
Seperti halnya dengan Shoim Anwar menghubungkan karya-karyanya dengan realitas kehidupan nyata dengan menggunakan bahasa yang dapat dinikmati oleh pembaca. Dalam cerpen Lelaki Dalam Kerapan karya M. Shoim Anwar sangat lekat sekali dengan dunia nyata. Shoim Anwar menulis cerpen ini dengan menggunakan latar Madura dan budayanya. Mendengar kata “Orang Madura”, maka pertama kali yang tergambar adalah paradoks dari keluguan dan kecerdasan, kesombongan dan kekonyolan, serta kekerasan sekaligus kelucuan. Simbol bagi orang Madura yang menjadi ciri khas tidak hanya dapat dilihat dari sikap kerasnya saja. Anggapan orang-orang yang demikian dan tidak mengenal benar siapa orang Madura selalu mempunyai perspektif “keras” dan lain-lain. Kenyataannya, orang Madura yang dikenal arogan, ternyata mempunyai watak yang lembut, sopan, santun dan menghargai terhadap orang lain. Di sana, ungkapan yang harus diperhatikan terhadap orang Madura antara sikap “ketegasan” dan “kekerasan”. Kedua kata ini mempunyai makna yang sangat tipis sekaligus tebal dalam pemahamannya. Barangkali, perlu adanya pemahaman yang selalu muncul dari pikiran, sikap, dan tindakan orang Madura dari dua kata tersebut. Dua kata benda—yang berasal dari kata sifat ”tegas” dan ”keras” yang dikaitkan dengan sikap dan perilaku ini harus dibedakan secara konseptual maupun praksis. “Keras” menunjukkan sifat perilaku berkebalikan dengan perilaku ”lembut”, sehingga segala sesuatu harus dihadapi dengan penuh emosi, mengabaikan akal budi dan etika sopan santun (asal kemauannya dituruti). Dalam konteks yang sama ”tegas” mengandung makna perilaku memegang prinsip yang diyakini sehingga tidak dengan mudah terombang-ambing oleh kondisi dan situasi sekelilingnya. Seperti pada cerpen Lelaki Dalam Kerapan karya M. Shoim Anwar yang menceritakan pada budaya yang disajikan secara estetik. Di sini, dalam narasi yang disajikan, terdapat hiruk pikuk “kekerasan” orang Madura dalam menyikapi suatu hal. Kerapan Sapi adalah kontes sepasang sapi jantan yang diadu kecepatan larinya dengan ditunggangi oleh seorang lelaki di atas kaleles yang disebut joki. Kontes ini merupakan budaya orang Madura. Kerapan Sapi hadir dengan sudut pandang orang ketiga. Dalam cerpen khususnya, sudut pandang atau pusat pengisahan (point of view) dipergunakan untuk menentukan arah pandang pengarang terhadap peristiwa-peristiwa di dalam cerita sehingga tercipta satu kesatuan cerita yang utuh (Sayuti, 2000:158).
Cerpen ini mengisahkan Saleh sebagai tokoh yang menjadi joki Kerapan Sapi yang berasal dari Sumenep. Menjadi joki Kerapan Sapi harus menguasai beberapa teknik menunggang sapi agar sapi yang ditungganginya bisa menang dalam pertandingan. Namun, pada pertandingan kali ini sapi yang ditungganginya kalah dan tidak bisa masuk final. Akibat sapi yang ditungganginya kalah salah seorang bernama Pak Uswak sempat tidak percaya dan ia merasa kecewa karena sapi yang dijagokan tumbang, dengan cepat Pak Uswak mengeluarkan sesuatu dari sakunya dan diremas-remas, mulutnya komat-kamit, setelah itu dia berjalan mengitari lapangan. Akhirnya waktu babak final sudah mau dimulai dan beberapa dari penonton ada yang bertaruh sapi mana yang menang. Namun, ditengah-tengah keramaian diumumkan kalau ada salah satu wakil rombongan dari Sumenep akan menampilkan satu acara selingan berupa pembacaan sajak. Ternyata yang membaca sajak itu adalah Saleh, dia akan membacakan sajak dari penyair asal Batang-Batang, Sumenep, yang berjudl Sapi Hitam. Setelah pembacaan sajak selesai tiba-tiba Pak Uswak mendekat dan merebut sajak ditangan Saleh. Kemudian Pak Uswak membaca sajak itu dan dipahaminya, ia membaca berulang-ulang dan memahami kata demi kata. Pada saat pertandingan final sudah selesai Pak Uswak tidak setuju dengan hasil final pertandingan kerapan sapi tersebut karena Pak Uswak mengetahui ada kecurangan dibalik pertandingan itu namun juri tidak percaya dan berakhir dengan bentrok sehingga menyebabkan kekerasan dengan menyabet-nyabetkan celurit hingga robek antara Pak Uswak dengan penunggang asal Pamekasan.
Wujud kekerasan dalam cerpen Lelaki Dalam Kerapan mulai muncul ketika kontes final sudah selesai. Sementara beberapa orang terpental dan terkapar di tanah, meraung-raung. Dua orang yang terjatuh kelihatan mengeluarkan darah sedangkan seorang lagi jempalikan di tanah. Seketika itu tokoh “Pak Uswak” berlari-lari mendekat ke tempat finis untuk meminta keadilan tentang pemenang tanpa ada kecurangan. seperti pada kutipan cerpen.
“Bapak jangan cerewet”
“Saya tidak cerewet” Pak Uswak semakin tegas.
“Hakim sudah menyatakan sah!”
“Hakim itu tak tahu persoalannya!” Saya yang tahu!”
“Tidak bisa! Tetap sah! Pamekasan menang!”
“Tidak sah!”
“Sah!”
“Tidak sah!”
“Sah!”
“Tidak sah!”
Kekerasan di Madura tidak bisa dipungkiri keberadaannya yang bersumber dari berbagai cerita-cerita dalam bentuk tulisan (karya) maupun lisan (visual). Itu sebabnya, kata Madura, Celurit, Carok, Darah menjadi hal yang menakutkan dan mengerikan. Predikat “keras” yang diperuntukkan orang Madura menjadi hal yang ekstrem di telinga kebanyakan orang luar. Alih-alih berkunjung ke pulau garam itu, berinteraksi dengan orang Madura saja bagi orang-orang menjadi sesuatu yang harus disegani atau dihindari. Seperti pada kutipan cerpen.
Begitu cepatnya Pak Uswak mengeluarkan sebilah celurit ukuran kecil dari balik bajunya sebelah samping. Dengan cepat pula dia menyabet penunggang asal Pamekasan. Penunggang itu sempoyongan, tapi sekali lagi Pak Uswak membabatnya hingga penunggang yang bernama Taher itu roboh ke tanah karena perutnya robek. Pak Uswak menyabet-nyabetkan celuritnya. Suasananya kacau dan terdengar ada yang menjerit.
“Jangan tangisi kalau ia mati sebab matinya matimu pula!” Kata Pak Uswak sambil berkacak pinggang dan matanya terbakar.
Kembali Pak Uswak mau membedah lelaki yang sudah tumbang itu, tapi tiba-tibapula seorang lelaki lain membabat Pak Uswak dari belakang. Ternyata dia adalah pemilik sapi dari Pamekasan. Pak Uswak seketika berbalik arah meski sesungguhnya telah robek. Mengetahui bahwa penunggang sewaannya bercucuran darah, pemilik sapi ini seperti kesetanan saja. Sekali lagi Pak Uswak ditebas bagian perutnya, lalu lehernya. Pak Uswak sempoyongan. Celurit di tangannya jatuh ke tanah. Dan sekali lagi pemilik sapi itu menebas leher Pak Uswak. Pak Uswak pun seketika roboh dan tengkurap di tanah yang kering. Darah mengalir. Leher lelaki itu sebentar lagi patah. Celurit telah bicara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar