Dalam kehidupan nyata, masyarakat desa memang kebanyakan bekerja sebagai petani. Bahkan di desa membuat suatu kelompok tani guna mempermudah penjualan dan mendapatkan pupuk serta jenis tanaman yang ingin ditanam oleh petani misalnya saja padi atau tebu. Memang kelompok tani selalu bertanggungjawab terhadap proses bertani dari awal penanaman hingga panen tiba. Terkadang juga ada sebagian para petani yang menyewakan lahan sawahnya kepada orang lain atau perusahaan guna untuk menyejahterahkan hidupnya. Namun, kadang malah sebaliknya tidak menyejahterahkan malah tertipu terhadap perusahan itu dan mengakibatkan konflik antara perusahaan dan petani tersebut. Cerpen Rendemen karya M. Shoim Anwar sangat lekat sekali dengan kehidupan nyata. Shoim Anwar menghubungkan cerita ini dengan realitas kehidupan nyata dengan menggunakan bahasa yang dapat dinikmati oleh pembaca. Cerpen Rendemen menceritakan tentang Suparlan seorang petani tebu di sebuah desa yang awalnya patuh terhadap pamong desa serta KUD untuk menanam dan menjual hasil tebunya kepada KUD. Suatu ketika Suparlan mendapat berita dari KUD bahwa tebunya harus segera di tebang karena jadwal penebangan dari pabrik gula sudah tiba kemudian KUD tersebut menyuruh para petani untuk segera menebang tebunya untuk segera dibawa ke pabrik gula karena pabrik gula itu membutuhkan stok tebu sekarang. Namun Suparlan menolak ketika disuruh menebang tebunya alasanya karena tebunya belum waktunya untuk ditebang dan rendemennya masih rendah. Tetapi pihak KUD dan kepala desa selalu memaksa kepada Suparlan untuk segera menebang tebunya tersebut agar pihak KUD dan pabrik gula itu tidak akan rugi. Suparlan tetap mempertahankan tebunya tersebut hingga akhirnya tebunya kering dan tidak bisa dipanen. Sejak itu konflik antara KUD dan Suparlan dimulai dan Suparlan terpaksa dipanggil ke kantor kepala desa untuk membayar hutang yang dulu digunakan untuk modal penanaman. Hal ini dibuktikan dengan kutipan cerpen berikut.
Suparlan sepertinya memang mebiarkan tanaman tebu itu. Tanaman yang sama disekitarnya sudah ditebang. Lelaki itu tetap bertahan karena dia tidak ingin jerih payahnya selama berbulan-bulan disedot begitu saja oleh orang lalin. Dia telah mengalami peristiwa itu bertahun-tahun, seperti juga para petani tebu yang lain.
Dari kutipan tersebut penulis memaparkan bahwa Suparlan awalnya memang sangat patuh dan nurut terhadap KUD, namun setelah bertahun-tahun ia merasa kalau hasil panennya tetap dan tidak ada peningkatan. Malah sebaliknya pihak KUD lah yang selalu meningkat dan menjadi kaya. Sehingga panen tahun ini Suparlan tidak menuruti apa kata KUD dan mempertahankan tebunya karena tebunya belum waktunya untuk ditebang.
perhatikan kutipan berikut!
“Katanya yang menentukan rendemen itu para ahli gula, Kang?”
“Ya, tapi mereka adalah orang-orang pabrik gula. Petani tidak tahu. Aku yakin ada permainan di sini. Masak rendemen tebu dari tahun ke tahun selalu turun. Padahal tebunya sangat baik. KUD ternyata hanya menerima saja, tak ada pembelaan. Bahkan petani selalu diharapkan untuk sabar dan bekerja terus. Hasil yang diterima petani semakin kecil. Itu pun masih dipotong oleh KUD sebagai ongkos angkutan dan nimbang. Petani juga harus bayar lagi jika tebunya ingin digiling lebih dulu oleh pabrik. Ini jelas permainan KUD.”
Dari kutipan di atas menggambarkan bahwa KUD selalu merintah rakyat untuk bekerja terus menerus demi keuntunganya dan pabrik gula tersebut. Memang modal awal penanaman tebu didapatkan dari pabrik gula melalui KUD sehingga hasilnya harus dijual ke pabrik gula tersebut. Tetapi tidak sepantasnya KUD memperlakukan petani tebu dengan seenaknya sendiri. Petani tebu di sini bekerja dengan semaksimal mungkin bahkan hasil tebunya juga sangat bagus tetapi ketika di panen KUD malah membuat pernyataan kalau hasil tebunya menurun dan hasilm yang didaptkan petani juga kecil belum juga harus dipotong dengan biaya angkutan dan nimbang. Pemikiran Suparlan terhadap KUD memang masuk akal karena dari tahun ke tahun harusnya hasil panen tebu tersebut makin meningkat tidak semamin menurun. Karena kinerja Suparlan dan para petani juga sudah maksimal kerja keras. Jika dihubungkan dengan realita seperti pada berita petani kelapa sawit di Jambi, para petani dipaksa untuk memasukkan hasil panen ke pabrik, selain itu aparat juga mengharuskan para petani menjual buah kelapa sawit kepada perusahaan, sehingga para petani mengancam jika perlakuan itu masih diterapkan maka petani menolak untuk panen. karena mereka kecewa hasil yang didapat dianggap masih merugikan petani karena petani tidak boleh menjual hasil panennya, dan perusahaan tetap melakukan pemotongan 30 persen hasil panen sawit.
Perhatikan kutipan berikut!
“Hidup saya sekarang sudah di penjara, Pak Lurah. Saya seperti sudah tidak punya kebebasan. Saya telah dipaksa untuk menanam tebu, tidak boleh menanam yang lain. Padahal itu sawah saya sendiri. Tolong Pak Lurah mengerti. Waktu menebang pun saya tidak punya kebebasan, segalanya sudah ditentukan. Minta diundur dua bulan saja tidak boleh. Soal menjual saya juga tidak bebas. Tebu saya harus dijual ke pabrik gula yang di maui KUD. Rendemen ditentukan sepihak. Harganya sudah dibuat mati. Pak Lurah, pabrik gula dan KUD telah memenjara saya. Keringat saya sebagai petani tebu telah diperas.”
Dari kutipan di atas menjelaskan bahwa pihak KUD, Pak Lurah dan pabrik tebu telah berbuat seenaknya terhadap para petani tebu. Mereka seolah-olah atasan yang semua perintahnya harus dipatuhi. Tanpa disadari kalau yang mereka perintah itu adalah seorang petani tebu yang secara tidak langsung bisa membuat pabrik tebunya bisa maju dan berkembang, karena jika tidak ada petani tebu maka pabrik gula juga tidak bisa memproduksi gula dan pasti akan bangkrut. Suparlan merasa kalau dirinya sudah diperlakukan dengan seenaknya karena seakan-akan dirinya dipenjara dan tidak boleh menanam yang lain selain tebu. Padahal lahan yang ia tanami itu adalah miliknya sendiri bukan milik opabrik tebu, Pak Lurah atau KUD. Jika dihubungkan dengan realita banyak sekali konflik antara petani dengan perusahaan. Petani tebu ditipu oleh perusahaan hingga lahan tebu milik petani bisa dikuasai oleh perusahaan tersebut. Sampai akhirnya para petani diminta oleh perusahan tersebut untuk bekerja keras dan rela menjadi buruh tebang tebu dengan upah yang sangat minim padahal ia bekerja dilahan miliknya sendiri. Bahkan ada yang terpaksa menggarap pinggiran lahan tebu demi keuntungan perusahaan tersebut. Sehingga harapan para petani tebu untuk bisa hidup enak dan sejahtera belum tercapai yang ada malah makin melarat dan orang-orang yang mempunyai perusahaan itu semakin kaya.
Minggu, 28 Mei 2017
Kedudukan Perempuan dalam Kesaksian pada Cerpen Sepatu Jinjit Aryanti Karya M. Shoim Anwar
Begitu banyak macam realitas kehidupan yang tertoreh dalam bentuk karya sastra. Ketika menemukan peristiwa yang memilukan, pengalaman yang menggelitik, kejadian nan unik atau eksentrik, dan hal-hal baru yang menggigit, pengarang mengeksplorasi semuanya itu dalam bentuk karya sastra.
Dalam kehidupan ini tentu ada saatnya kita benar-benar diposisikan berat untuk memilih ketika kedua pilihan tersebut harus kita pilih salah satunya, namun ketika kenyataan mengharuskan kita memilih untuk mengikuti semua perintah seorang atasan maka dengan berat hati, kita harus memilih untuk melaksanakan perintah tersebut meskipun perintah yang diberikan kepada kita adalah perintah yang salah.
Cerpen Sepatu Jinjit Aryanti karya M. Shoim Anwar merupakan hasil karya sastra yang mengabstraksikan realitas kehidupan seorang pegawai dengan atasannya. Shoim Anwar sebagai pengarang cerpen ini menggugah pembaca dengan menampilkan problema kehidupan seorang wanita yang bernama Aryanti, berpredikat sebagai seorang caddy di lapangan golf, akan tetapi karena Aryanti mengetahui dan menjadi saksi mahkota terkait kasus pembunuhan orang penting yang direncanakan maka kehidupan Aryanti sekarang menjadi tidak bebas dan tinggalnya selalu berpindah-pindah dengan penjagaan seorang pengawal agar Aryanti tidak diketahui oleh pemburu berita. Sehingga Aryanti harus mengikuti semua perintah dan skenario yang sudah dimainkan yang juga mempertaruhkan nyawanya sendiri. Perhatikan kutipan berikut:
“Kau merindukan siapa?” Aku membuka pembicaraan lagi. Dia terdiam beberapa saat. Dipegang-pegang pipi kirinya bagian bawah. Sejenak dia melepas kaca mata yang mulai terbiasa digunakan.
“Kau rindu dengan dia?” kembali aku membuka tanya. Aryanti membalik pandang ke arahku dengan pelan.
“Siapa yang Bapak maksud?” tampak matanya berkedip sayu.
“Kau telah melakukannya. Jangan kau Jilat kembali,” kataku
Aryanti terdiam beberapa lama. Dia makin fokus menatapku. Ada kekuatan di matanya kali ini. Perempuan itu mendekat.
Tak akan saya jilat lagi karena sudah tak mungkin. Tapi apakah tidak boleh saya mengingatnya?”
“Kau tidak memiliki banyak kata untuk itu, “ aku menyambungnya. “ Hanya ada satu yang aku ingat akan kata-katamu.”
“Apa itu Bapak?” Kali ini Aryanti membalasnya dengan cepat.
“Harus tega walau sangat berat.”
Dari kutipan di atas tampak jelas sekali bahwa Aryanti sangat menyesal dan tidak tega terhadap apa yang sudah dilakukannya, ia selalu ingat dengan kejadian-kejadian yang menimpanya yang membuat dirinya tega menjebak lelaki yang selama ini sudah membuat dirinya senang dan bahagia. Perhatikan kutipan berikut.
Aku adalah bagian dari persekongkolan itu. Tapi aku dalam posisi tak berdaya karena perintah atasan yang tak boleh ditolak. Aku tetaplah seorang manusia yang mempunyai pikiran dan rasa yang waras. Aryanti tentu juga demikian. Dia dalam posisi tak berdaya. Memang aku dan Aryanti adalah bagian dari pelaku persekongkolan itu.
Dari kutipan di atas Aryanti tidak memiliki pilihan lain untuk menolak perintah atasan yang tidak boleh ditolak karena dia hanya seorang bawahan dan dia dalam posisi yang tak berdaya. Sehingga tega ataupun tidak tega Aryanti harus tetap melakukannya meskipun dengan sangat berat. Tokoh aku dan Aryanti memang bersengkongkol, tapi mereka melakukan hal itu bukan untuk kepentingan mereka sendiri. Akan tetapi dalam keadaan seperti itu Aryanti sangat menderita karena tidak boleh berkomunikasi dengan keluarga dan teman-temannya. Jalur komunikasinya telah disadap sehingga bisa dipantau lewat layar monitor. Perhatikan kutipan berikut.
Tiba-tiba pintu diketuk dari luar. Aku dan Aryanti saling memandang. Ketukan itu terdengar kembali. Aku memberi isyarat, lalu bangkit ke arah pintu untuk membuka. Dua lelaki sudah berdiri di mulut pintu. Lamat-lamat sepertinya aku sudah pernah melihat wajah salah seorang di antaranya. Tapi entah di mana. Yang jelas di tanah air. ’’ Chek out sekarang!” katanya tanpa berbasa-basi. Pertanyaan-pertanyanku tak dijawabnya. Intinya kami harus berkemas dan meninggalkan hotel ini secepatnya. Tak ada pilihan lain, kami keluar menuju resepsionis dengan diawasi dua lelaki tadi.
Dari kutipan di atas, menggambarkan bahwa ketika tokoh aku dan Aryanti berada di dalam ruangan tiba-tiba ada dua orang lelaki yang mengetuk pintu dan lelaki tersebut menyuruh Aryanti dan tokoh aku untuk berkemas pergi meninggalkan hotel tersebut. Tokoh aku sepertinya mengenali dua lelaki tersebut tapi tokoh aku tidak terlalu banyak berpikir karena tokoh aku dan Aryanti harus mematuhi apa yang telah diucapkan dua lelaki tersebut untuk segera chek out dan berkemas. Setelah berkemas Aryanti dan tokoh aku diberi dua tiket pesawat dan harus terbang pada malam itu juga. Kemudian Aryanti dan tokoh aku tersebut dijemput untuk diantar ke bandara untuk terbang ke tanah air tapi tidak ke ibu kota melainkan ke Balikpapan. Mereka tidak tahu skenario apa lagi yang telah dibuat yang mereka tahu hanyalah mengikuti perintah atasan demi untuk menutupi borok orang-orang di sana.
Dari sini seakan jelas sekali bahwa penulis ingin menggambarkan sebuah masalah yang mungkin sering melanda hubungan antara atasan dan bawahan serta orang-orang penting lainnya. Karena sebuah kasus yang bisa membuat seorang atasan bisa masuk penjara karena ada salah satu bawahannya yang mengetahui dan bisa menjadi saksi atas perbuatan yang telah dilakukannya kepada orang-orang penting.
Dari beberapa kutipan yang telah dipaparkan, cerpen Sepatu Jinjit Aryanti memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dalam cerpen ini adalah M. Shoim Anwar mengangkat cerita ini berdasarkan kejadian atau fenomena sosial yang sering terjadi dalam masyarakat menggunakan bahasa yang mudah dipahami, terdapat tokoh-tokoh pewayangan serta kerajaan yang diselipkan di tengah-tengah cerita membuat pembaca ikut terbawa suasana pada masa itu, serta terdapat unsur percintaan. Kekurangan dalam cerita cerpen ini adalah ketidakjelasan tokoh yang dibunuh karena dalam cerita tersebut status korban hanya sebagai orang yang paling dekat dengan Aryanti, apakah si korban itu suami, pacar, atau kerabat masih belum diketahui.
Dalam kehidupan ini tentu ada saatnya kita benar-benar diposisikan berat untuk memilih ketika kedua pilihan tersebut harus kita pilih salah satunya, namun ketika kenyataan mengharuskan kita memilih untuk mengikuti semua perintah seorang atasan maka dengan berat hati, kita harus memilih untuk melaksanakan perintah tersebut meskipun perintah yang diberikan kepada kita adalah perintah yang salah.
Cerpen Sepatu Jinjit Aryanti karya M. Shoim Anwar merupakan hasil karya sastra yang mengabstraksikan realitas kehidupan seorang pegawai dengan atasannya. Shoim Anwar sebagai pengarang cerpen ini menggugah pembaca dengan menampilkan problema kehidupan seorang wanita yang bernama Aryanti, berpredikat sebagai seorang caddy di lapangan golf, akan tetapi karena Aryanti mengetahui dan menjadi saksi mahkota terkait kasus pembunuhan orang penting yang direncanakan maka kehidupan Aryanti sekarang menjadi tidak bebas dan tinggalnya selalu berpindah-pindah dengan penjagaan seorang pengawal agar Aryanti tidak diketahui oleh pemburu berita. Sehingga Aryanti harus mengikuti semua perintah dan skenario yang sudah dimainkan yang juga mempertaruhkan nyawanya sendiri. Perhatikan kutipan berikut:
“Kau merindukan siapa?” Aku membuka pembicaraan lagi. Dia terdiam beberapa saat. Dipegang-pegang pipi kirinya bagian bawah. Sejenak dia melepas kaca mata yang mulai terbiasa digunakan.
“Kau rindu dengan dia?” kembali aku membuka tanya. Aryanti membalik pandang ke arahku dengan pelan.
“Siapa yang Bapak maksud?” tampak matanya berkedip sayu.
“Kau telah melakukannya. Jangan kau Jilat kembali,” kataku
Aryanti terdiam beberapa lama. Dia makin fokus menatapku. Ada kekuatan di matanya kali ini. Perempuan itu mendekat.
Tak akan saya jilat lagi karena sudah tak mungkin. Tapi apakah tidak boleh saya mengingatnya?”
“Kau tidak memiliki banyak kata untuk itu, “ aku menyambungnya. “ Hanya ada satu yang aku ingat akan kata-katamu.”
“Apa itu Bapak?” Kali ini Aryanti membalasnya dengan cepat.
“Harus tega walau sangat berat.”
Dari kutipan di atas tampak jelas sekali bahwa Aryanti sangat menyesal dan tidak tega terhadap apa yang sudah dilakukannya, ia selalu ingat dengan kejadian-kejadian yang menimpanya yang membuat dirinya tega menjebak lelaki yang selama ini sudah membuat dirinya senang dan bahagia. Perhatikan kutipan berikut.
Aku adalah bagian dari persekongkolan itu. Tapi aku dalam posisi tak berdaya karena perintah atasan yang tak boleh ditolak. Aku tetaplah seorang manusia yang mempunyai pikiran dan rasa yang waras. Aryanti tentu juga demikian. Dia dalam posisi tak berdaya. Memang aku dan Aryanti adalah bagian dari pelaku persekongkolan itu.
Dari kutipan di atas Aryanti tidak memiliki pilihan lain untuk menolak perintah atasan yang tidak boleh ditolak karena dia hanya seorang bawahan dan dia dalam posisi yang tak berdaya. Sehingga tega ataupun tidak tega Aryanti harus tetap melakukannya meskipun dengan sangat berat. Tokoh aku dan Aryanti memang bersengkongkol, tapi mereka melakukan hal itu bukan untuk kepentingan mereka sendiri. Akan tetapi dalam keadaan seperti itu Aryanti sangat menderita karena tidak boleh berkomunikasi dengan keluarga dan teman-temannya. Jalur komunikasinya telah disadap sehingga bisa dipantau lewat layar monitor. Perhatikan kutipan berikut.
Tiba-tiba pintu diketuk dari luar. Aku dan Aryanti saling memandang. Ketukan itu terdengar kembali. Aku memberi isyarat, lalu bangkit ke arah pintu untuk membuka. Dua lelaki sudah berdiri di mulut pintu. Lamat-lamat sepertinya aku sudah pernah melihat wajah salah seorang di antaranya. Tapi entah di mana. Yang jelas di tanah air. ’’ Chek out sekarang!” katanya tanpa berbasa-basi. Pertanyaan-pertanyanku tak dijawabnya. Intinya kami harus berkemas dan meninggalkan hotel ini secepatnya. Tak ada pilihan lain, kami keluar menuju resepsionis dengan diawasi dua lelaki tadi.
Dari kutipan di atas, menggambarkan bahwa ketika tokoh aku dan Aryanti berada di dalam ruangan tiba-tiba ada dua orang lelaki yang mengetuk pintu dan lelaki tersebut menyuruh Aryanti dan tokoh aku untuk berkemas pergi meninggalkan hotel tersebut. Tokoh aku sepertinya mengenali dua lelaki tersebut tapi tokoh aku tidak terlalu banyak berpikir karena tokoh aku dan Aryanti harus mematuhi apa yang telah diucapkan dua lelaki tersebut untuk segera chek out dan berkemas. Setelah berkemas Aryanti dan tokoh aku diberi dua tiket pesawat dan harus terbang pada malam itu juga. Kemudian Aryanti dan tokoh aku tersebut dijemput untuk diantar ke bandara untuk terbang ke tanah air tapi tidak ke ibu kota melainkan ke Balikpapan. Mereka tidak tahu skenario apa lagi yang telah dibuat yang mereka tahu hanyalah mengikuti perintah atasan demi untuk menutupi borok orang-orang di sana.
Dari sini seakan jelas sekali bahwa penulis ingin menggambarkan sebuah masalah yang mungkin sering melanda hubungan antara atasan dan bawahan serta orang-orang penting lainnya. Karena sebuah kasus yang bisa membuat seorang atasan bisa masuk penjara karena ada salah satu bawahannya yang mengetahui dan bisa menjadi saksi atas perbuatan yang telah dilakukannya kepada orang-orang penting.
Dari beberapa kutipan yang telah dipaparkan, cerpen Sepatu Jinjit Aryanti memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dalam cerpen ini adalah M. Shoim Anwar mengangkat cerita ini berdasarkan kejadian atau fenomena sosial yang sering terjadi dalam masyarakat menggunakan bahasa yang mudah dipahami, terdapat tokoh-tokoh pewayangan serta kerajaan yang diselipkan di tengah-tengah cerita membuat pembaca ikut terbawa suasana pada masa itu, serta terdapat unsur percintaan. Kekurangan dalam cerita cerpen ini adalah ketidakjelasan tokoh yang dibunuh karena dalam cerita tersebut status korban hanya sebagai orang yang paling dekat dengan Aryanti, apakah si korban itu suami, pacar, atau kerabat masih belum diketahui.
Senin, 08 Mei 2017
"Batu Akik Keberuntungan dalam Cerpen Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup karya M. Shoim Anwar"
Dalam kehidupan nyata, sering kita jumpai peristiwa atau berita tentang fenomena batu akik. Baik peristiwa itu dikabarkan dalam bentuk media elektronik maupun media cetak. Jika menilik jauh lagi, tren batu akik sebenarnya sudah berlangsung sejak zaman dahulu. Pada zaman dahulu, siapa saja yang mengenakan batu akik diyakini bisa membuat pemakainya menjadi ramah, jujur, dan berpengetahuan luas. Singkatnya batu akik memiliki daya magis yang dapat memperluas perspektif kehidupan. Sebagian orang menyakini batu akik bisa menjadi penolak bala, batu akik berkhasiat menyembuhkan berbagai penyakit, orang Arab memakai batu akik agar terhindar dari musibah dan masih banyak lainnya. Cerpen Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup Karya M. Shoim Anwar sangat lekat sekali dengan dunia nyata. Shoim Anwar menghubungkan cerita ini dengan realitas kehidupan nyata dengan menggunakan bahasa yang dapat dinikmati oleh pembaca. Cerpen Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup mengisahkan tentang kehidupan Gus Usup yang selalu memakai cincin akik di jari manisnya dan cincin itu seperti sisik naga. Di desanya, Gus Usup selalu dihormati oleh masyarakat sekitar, karena dianggap bukanlah orang sembarangan. Ia terkenal ramah dan akrab terhadap warga dibanding dengan saudara-saudaranya.
Gus Usup bukanlah orang biasa. Kami menghormatinya sebagaimana kami menghormati orang-orang terhormat. Penghormatan terhadap Gus Usup telah dilakukan para tetua sehingga tak ada alasan buat kami untuk tidak berlaku hormat padanya. Ketika dia melintas di jalan, orang-orang menyapanya dengan penuh rasa hormat, sedikit membungkukkan badan, menanyakan mau ke mana, hingga mempersilakan mampir ke rumah. Sebuah kehormatan luar biasa bila Gus Usup berkenan singgah dan menyeruput kopi yang kami suguhkan. Tentu saja ini jarang terjadi. Gus Usup menjawab sapaan kami dengan tersenyum sambil terus mengayuh sepedanya.
Dari kutipan di atas penulis memaparkan bahwa Gus Usup memang sosok yang disegani oleh masyarakat dan Gus Usup bukan orang sembarangan. Seperti yang kita ketahui kalau di desa kita ada sesepuh seperti kiyai atau para ulama pasti semua warga akan menghormatinya meskipun kiyai tersebut masih muda dan belum menikah. Karena mereka menganggap sosok yang dihormatinya itu bisa menjadi contoh yang baik buat kehidupan mereka.
perhatikan kutipan berikut.
“Assalamu’alaikum, Gus,” begitulah kami menyapa ketika beliau lewat. Salam itu dijawabnya dengan sopan pula.
“Mampir dulu, Gus.”
“Inggih, terima kasih,” jawabnya lembut.
Dari kutipan di atas menggambarkan bahwa Gus Usup memang sosok yang dihormati dan ramah dan mudah akrab terhadap warga. Dilihat dari jawaban Gus Usup terlihat bahwa Gus Usup tidak sombong terhadap sesama, Gus Usup seorang yang bijak sana dan bisa dijadikan panutan oleh warga di desanya. Jika dihubungkan dengan realita banyak orang tua jaman sekarang yang menyuruh anaknya untuk mencontoh orang-orang yang dianggap santun dan bijaksana meskipun orang itu adalah anak kecil dan temannya anaknya sendiri.
“Sejak anak-anak, Gus Usup itu suka main dengan anak-anak kampung,” cerita Guk Mat sebagai teman sepermainannya.
“Apa kesukaannya, Guk?” kami bertanya.
“Menghanyutkan diri dengan rakit dari batang pisang, lalu mandi bersama-sama di Kali Dan sambil belajar renang gaya sungai,” lanjut Guk Mat sambil memperagakan renang gaya sungai. “Gus Usup juga suka mencari batu-batu kecil di dasar sungai.”
“Untuk apa batu?”
“Katanya itu batu akik.”
Dari kutipan di atas menggambarkan kalau Gus Usup memang orang yang mudah akrab dan tidak memilih-milih teman dan kebiasaanya dulu mencari batu-batu kecil di sungai dan dijadikan batu akik, meskipun sekarang ia sudah tidak kanak-kanak lagi tapi ia tetap seperti dulu suka bergaul dengan orang-orang di desanya dan tidak ada perbedaan kelas diantaranya. Jika dihubungkan dengan kehidupan sekarang seperti yang kita ketahui banyak sesepuh desa yang gemar mengoleksi batu akik dan mereka mencari batu akik tersebut tidak sendiri mereka mencari batu itu bersama-sama sehingga tidak ada perbedaan diantara sesepuh atau kiyai dengan para warga.
Dalam cerpen ini juga diceritakan kalau Gus Usup suka bermain kartu jika ada orang hajatan, konon Gus Usup selalu menang dalam permainan itu jika ia memakai batu akik tersebut. Tetapi hasil kemenangannya selalu dibagikan kembali kepada para lawannya yang kalah. Oleh karena itu, semua orang percaya bahwa batu akik milik Gus Usup itu sudah diisi dengan bacaan tertentu.
Perhatikan kutipan berikut!
“Sisik naga dilawan,” kata Cak Nan sambil meraih gelas kopi.
“Giliranku menang.” Wak Marsud menepuk-nepuk sisik naga di jari Gus Usup. Gus Usup hanya tersenyum.
“Habis recehan saya, Gus,” kata Guk Mat.
“Masih sore kok sudah habis,” Gus Usup menimpali. “Tukarkan!”
Dari kutipan di atas, orang-orang yang bermain memang mempercayai kalau cincin akik milik Gus Usup itu menjadi penyebab kemenangan Gus Usup sehingga mereka dengan gamplang bicara kalau tidak ada yang bisa mengalahkan cincin akik yang seperti sisik naga itu. Dalam kehidupan sekarang juga banyak orang yang mempercayai kalau cincin akik bisa dijadikan cimat dan keberuntungan. Banyak yang menggunakan dan mengoleksi cincin akik untuk dijadikan cendera mata, tidak hanya itu ada pula yang mempercayai kalau cincin akik bisa dijadikan untuk menyembuhkan penyakit.
Guk Mat teringat, di tengah permainan tadi dia juga sempat menyembunyikan uang kemenangan di saku jaket Gus Usup yang dipakainya. Uang itu segera dikeluarkan. Ah, jumlahnya makin banyak pula. Kantong saku jaket sebelah kiri telah dirogohnya. Kini dia berganti merogoh saku jaket sebelah kanan. Terasa ada benda aneh di tangannya. Segera dikeluarkan. Guk Mat terjingkat. Sisik naga! Akik Gus Usup itu ternyata ikut tertinggal di saku jaketnya. Entah ini disengaja atau tidak oleh Gus Usup. Mata Guk Mat tak berkedip melihatnya. Ada getaran di jemarinya.
Dari kutipan di atas, terlihat kalau Guk Mat memang menang dalam permainan itu tanpa adanya Gus Usup. Tetapi Guk Mat merasa kalau kemenangannya ada kaitannya dengan cincin akik sisik naga milik Gus Usup, karena kebetulan Gus Usup sebelum pulang kerumah menitipkan jaket pada Guk Mat dan Guk Mat tidak tahu kalau di saku jaket Gus Usup ada cincin akiknya. Sehingga ia selalu memikirkan kalau kemengannya itu karena cincin akik sisik naga milik Gus Usup. Kini cincin akik milik Gus Usup berada di tangan Guk Mat dan lama-lama Guk mat berkeinginan memiliki cincin akik tersebut. Jika dihubungkan dengan kehidupan sekarang tak sedikit orang yang memakai cincin akik, bahkan ada yang menggunakan cincin akik untuk dijadikan jimat tetapi harus diisi dengan bacaan terlebih dahulu agar batu akik tersebut bisa menjadi sakti. Fenomena itu mungkin bagi orang yang tidak percaya itu mustahil tapi bagi orang yang mempercayai itu adalah nyata dan memang benar ada jika batu akik bisa dijadikan jimat. Pada zaman dahulu orang-orang Arab dan Persia memakai cincin batu akik di jari manis mereka. Uniknya batu akik tersebut diukir ayat-ayat tertentu yang diambil dari Al-Quran dan juga simbol-simbol tertentu. Dengan memakai cincin batu akik yang seperti itu mereka semua percaya bahwa batu akik itu akan menyelamatkan mereka dari bahaya. Keyakinan seperti itu hingga kini masih ada dan masih banyak orang-orang yang percaya bahwa batu akik bisa menghindarkan seseorang dari musibah.
Gus Usup bukanlah orang biasa. Kami menghormatinya sebagaimana kami menghormati orang-orang terhormat. Penghormatan terhadap Gus Usup telah dilakukan para tetua sehingga tak ada alasan buat kami untuk tidak berlaku hormat padanya. Ketika dia melintas di jalan, orang-orang menyapanya dengan penuh rasa hormat, sedikit membungkukkan badan, menanyakan mau ke mana, hingga mempersilakan mampir ke rumah. Sebuah kehormatan luar biasa bila Gus Usup berkenan singgah dan menyeruput kopi yang kami suguhkan. Tentu saja ini jarang terjadi. Gus Usup menjawab sapaan kami dengan tersenyum sambil terus mengayuh sepedanya.
Dari kutipan di atas penulis memaparkan bahwa Gus Usup memang sosok yang disegani oleh masyarakat dan Gus Usup bukan orang sembarangan. Seperti yang kita ketahui kalau di desa kita ada sesepuh seperti kiyai atau para ulama pasti semua warga akan menghormatinya meskipun kiyai tersebut masih muda dan belum menikah. Karena mereka menganggap sosok yang dihormatinya itu bisa menjadi contoh yang baik buat kehidupan mereka.
perhatikan kutipan berikut.
“Assalamu’alaikum, Gus,” begitulah kami menyapa ketika beliau lewat. Salam itu dijawabnya dengan sopan pula.
“Mampir dulu, Gus.”
“Inggih, terima kasih,” jawabnya lembut.
Dari kutipan di atas menggambarkan bahwa Gus Usup memang sosok yang dihormati dan ramah dan mudah akrab terhadap warga. Dilihat dari jawaban Gus Usup terlihat bahwa Gus Usup tidak sombong terhadap sesama, Gus Usup seorang yang bijak sana dan bisa dijadikan panutan oleh warga di desanya. Jika dihubungkan dengan realita banyak orang tua jaman sekarang yang menyuruh anaknya untuk mencontoh orang-orang yang dianggap santun dan bijaksana meskipun orang itu adalah anak kecil dan temannya anaknya sendiri.
“Sejak anak-anak, Gus Usup itu suka main dengan anak-anak kampung,” cerita Guk Mat sebagai teman sepermainannya.
“Apa kesukaannya, Guk?” kami bertanya.
“Menghanyutkan diri dengan rakit dari batang pisang, lalu mandi bersama-sama di Kali Dan sambil belajar renang gaya sungai,” lanjut Guk Mat sambil memperagakan renang gaya sungai. “Gus Usup juga suka mencari batu-batu kecil di dasar sungai.”
“Untuk apa batu?”
“Katanya itu batu akik.”
Dari kutipan di atas menggambarkan kalau Gus Usup memang orang yang mudah akrab dan tidak memilih-milih teman dan kebiasaanya dulu mencari batu-batu kecil di sungai dan dijadikan batu akik, meskipun sekarang ia sudah tidak kanak-kanak lagi tapi ia tetap seperti dulu suka bergaul dengan orang-orang di desanya dan tidak ada perbedaan kelas diantaranya. Jika dihubungkan dengan kehidupan sekarang seperti yang kita ketahui banyak sesepuh desa yang gemar mengoleksi batu akik dan mereka mencari batu akik tersebut tidak sendiri mereka mencari batu itu bersama-sama sehingga tidak ada perbedaan diantara sesepuh atau kiyai dengan para warga.
Dalam cerpen ini juga diceritakan kalau Gus Usup suka bermain kartu jika ada orang hajatan, konon Gus Usup selalu menang dalam permainan itu jika ia memakai batu akik tersebut. Tetapi hasil kemenangannya selalu dibagikan kembali kepada para lawannya yang kalah. Oleh karena itu, semua orang percaya bahwa batu akik milik Gus Usup itu sudah diisi dengan bacaan tertentu.
Perhatikan kutipan berikut!
“Sisik naga dilawan,” kata Cak Nan sambil meraih gelas kopi.
“Giliranku menang.” Wak Marsud menepuk-nepuk sisik naga di jari Gus Usup. Gus Usup hanya tersenyum.
“Habis recehan saya, Gus,” kata Guk Mat.
“Masih sore kok sudah habis,” Gus Usup menimpali. “Tukarkan!”
Dari kutipan di atas, orang-orang yang bermain memang mempercayai kalau cincin akik milik Gus Usup itu menjadi penyebab kemenangan Gus Usup sehingga mereka dengan gamplang bicara kalau tidak ada yang bisa mengalahkan cincin akik yang seperti sisik naga itu. Dalam kehidupan sekarang juga banyak orang yang mempercayai kalau cincin akik bisa dijadikan cimat dan keberuntungan. Banyak yang menggunakan dan mengoleksi cincin akik untuk dijadikan cendera mata, tidak hanya itu ada pula yang mempercayai kalau cincin akik bisa dijadikan untuk menyembuhkan penyakit.
Guk Mat teringat, di tengah permainan tadi dia juga sempat menyembunyikan uang kemenangan di saku jaket Gus Usup yang dipakainya. Uang itu segera dikeluarkan. Ah, jumlahnya makin banyak pula. Kantong saku jaket sebelah kiri telah dirogohnya. Kini dia berganti merogoh saku jaket sebelah kanan. Terasa ada benda aneh di tangannya. Segera dikeluarkan. Guk Mat terjingkat. Sisik naga! Akik Gus Usup itu ternyata ikut tertinggal di saku jaketnya. Entah ini disengaja atau tidak oleh Gus Usup. Mata Guk Mat tak berkedip melihatnya. Ada getaran di jemarinya.
Dari kutipan di atas, terlihat kalau Guk Mat memang menang dalam permainan itu tanpa adanya Gus Usup. Tetapi Guk Mat merasa kalau kemenangannya ada kaitannya dengan cincin akik sisik naga milik Gus Usup, karena kebetulan Gus Usup sebelum pulang kerumah menitipkan jaket pada Guk Mat dan Guk Mat tidak tahu kalau di saku jaket Gus Usup ada cincin akiknya. Sehingga ia selalu memikirkan kalau kemengannya itu karena cincin akik sisik naga milik Gus Usup. Kini cincin akik milik Gus Usup berada di tangan Guk Mat dan lama-lama Guk mat berkeinginan memiliki cincin akik tersebut. Jika dihubungkan dengan kehidupan sekarang tak sedikit orang yang memakai cincin akik, bahkan ada yang menggunakan cincin akik untuk dijadikan jimat tetapi harus diisi dengan bacaan terlebih dahulu agar batu akik tersebut bisa menjadi sakti. Fenomena itu mungkin bagi orang yang tidak percaya itu mustahil tapi bagi orang yang mempercayai itu adalah nyata dan memang benar ada jika batu akik bisa dijadikan jimat. Pada zaman dahulu orang-orang Arab dan Persia memakai cincin batu akik di jari manis mereka. Uniknya batu akik tersebut diukir ayat-ayat tertentu yang diambil dari Al-Quran dan juga simbol-simbol tertentu. Dengan memakai cincin batu akik yang seperti itu mereka semua percaya bahwa batu akik itu akan menyelamatkan mereka dari bahaya. Keyakinan seperti itu hingga kini masih ada dan masih banyak orang-orang yang percaya bahwa batu akik bisa menghindarkan seseorang dari musibah.
“Bu Lurah, Warga, dan Gosipnya dalam cerpen Tahi Lalat di Dada Istri Pak Lurah karya M. Shoim Anwar"
Pada cerpen “Tahi Lalat di Dada Istri Pak Lurah” Karya M. Shoim Anwar, banyak mengkritik dalam segi sosial. Dalam cerpen tersebut menceritakan istri Pak Lurah yang memiliki tahi lalat di dadanya dan sudah mulai menyebar seperti wabah. Tokoh aku mulai mendengar berita itu dari temannya yang bernama Bakrul, meski berita itu rahasia tapi menurut tokoh aku berita itu pasti menyebar karena menyangkut orang nomor satu di desanya.
“Di sebelah mana tahi lalatnya?” aku mencoba mengorek kejelasan.
“Besar?”
“Katanya sebesar biji randu.”
“Ooo...,” aku manggut-manggut.
Dari kutipan di atas tampak jelas bahwa tahi lalat di dada istri Pak Lurah memang ada tetapi tokoh aku sepertinya masih belum percaya akan keberadaan tahi lalat tersebut karena dalam kutipan di atas tokoh aku masih mencari informasi yang tepat tentang adanya kabar kalau di dada istri Pak Lurah ada tahi lalatnya. Meskipun orang-orang yang ada di desanya selalu membicarakan tentang istri Pak Lurah dan berita itu menjadi topik utama sebagai bahan obrolan orang-orang. Hingga berita itu menyebar luas ke wilayah lain.
“Di dada istri Pak Lurah ada tahi lalatnya ya?” pertanyaanditeriakkan salah seorang warga. Kali ini aku mencoba menahan diri, tanpa memberi jawaban atau kode.
“Di sebelah kiri ya?” teriakkan itu dilanjutkan
“Sebesar biji randu ya?”
Saat ada orang lewat dan masih belum yakin akan keberadaan tahi lalat di dada istri Pak Lurah pasti orang-orang yang ada di wilayah itu selalu melontarkan pertanyaan dan langsung diteriakkan. Karena tokoh aku percaya bahwa cerita tersebut makin seru dan tidak terbebani karena hukum gosip pun berlaku.
“Tuh kelakuan istri lurahmu!”
“Perempuan kayak gitu jadi Bu Lurah!”
“Rombengan!”
“Prek!”
Kutipan di atas memang termasuk kata-kata yang tidak baik untuk diucapkan. Tetapi karena adanya berita tahi lalat di dada istri Pak Lurah orang-orang desa seakan makin berani untuk melontarkan kata-kata yang kurang baik itu. Kini orang-orang itu makin berani mengejek dan mengolok-olok hingga citra istri Pak Lurah itu direndahkan.
“Begitu kog dibicarakan. Gak pantes,” kata istriku.
“Tak ada gosip tanpa api,” aku membalas.
“Kalau toh benar, pasti orang dekat yang mula-mula menyebarkannya.”
“Ya gak mungkinlah kalau Pak Lurah,” istriku menyengah.
“Tentu bukan dia, tapi orang yang pernah mengetahui dengan pasti.”
Memang benar ketika istri dari tokoh aku itu berbicara, “Begitu kog dibicarakan. Gak pantes,” karena kata-kata yang kurang baik itu dilontarkan apalagi di depan orang banyak dan ada juga anak kecilnya maka akan menimbulkan pertikaian jika orang yang dibicarakan itu mengetahuinya dan bisa menyakiti perasaan orang yang dimaksud yaitu Bu Lurah. Tetapi ketika tokoh aku menjawab pertanyaan sang istri tokoh aku juga ada benarnya karena memang jika tidak ada gosip tanpa api, jadi tidak ada masalah tanpa penyebab. Mungkin orang-orang yang ada di desa itu mengetahui tentang kelakuan istri Pak Lurah di luar sana yang kurang baik. Sehingga mereka punya bukti yang kuat dan mereka selalu membicarakan tentang istri Pak Lurah tanpa berbasa basi lagi.
Sindiran itu kembali dilontarkan saat mendekati masa pendaftaran calon lurah. Ternyata berita tentang tahi lalat yang di dada istri Pak Lurah belum juga menyurut, semakin hari semakin menyebar. Bahkan yang orang-orang bicarakan tidak hanya tahi lalat tetapi mereka juga membicarakan soal telinga, pipi, bibir, leher, perut, bokong, paha, hingga sekujur tubuh istri Pak Lurah mereka bicarakan. Bakrul sengaja memberi bumbu pembicaraan ke arah yang maikn tabu, disertai pula dengan gerakan yang erotis, memperagakan seperti memacu kuda, menirukan suara istri Pak Lurah yang manja, mendesah, dan pada akhirnya orang-orang pun spontan menertawakannya seperti pada kutipan “Gak kuat aku, cuuuk...cuk...”
Selain dilihat dari segi sosial cerpen ”Tahi Lalat di Dada Istri Pak Lurah” karya M. Shoim Anwar juga bisa dikritik dari segi politiknya. Pengarang memunculkan status atau kedudukan sangat mempengaruhi suatu kehidupan. Tokoh Aku merasa kalau dirinya dan warga desa diperlakukan Pak Lurah seperti kompeni karena Pak Lurah selama menjabat, tidak sedikit warga yang kehilangan sawah ladangnya dan berganti dengan perumahan mewah. Warga yang tanahnya berada di tempat strategis, melalui Pak Bayan atau sekretaris desa, dirayu untuk menjual tanahnya yang strategis. Pak Lurah selalu membujuk warga yang lain dengan cara memanggilnya ke kantor kelurahan. Tokoh aku sangat yakin kalau Pak Lurah dapat keuntungan yang banyak dari presentase diam-diam antara dia dengan pihak pembeli.
“Kalau tidak mau menjual akan dipagari oleh pihak pengembang perumahan,” begitulah kata-kata intimidasi yang dilontarkan Pak Bayan kepada penduduk.
Kutipan di atas memang ada unsur politiknya karena jika para penduduk tidak mau menjual sawah miliknya pihak pengembang perumahan akan memagari sawah tersebut. Dengan perkataan tersebut jelas para warga merasa khawatir kalau sawahnya akan berkurang kalau tidak segera dijual. Sehingga para warga akhirnya mau menjual sawah yang dimilikinya tersebut. Pak Lurah pun sering pamer bahwa pembangunan diwilayahnya berjalan dengan cepat, rumah-rumah bagus kini dimiliki penduduknya, mobil juga keluar masuk. Sedangkan di sini tokoh aku tetap kukuh untuk tidak mau menjual sawah miliknya, yang ada tokoh aku sempat berdebat dengan Pak Bayan kalau tokoh aku berharap kalau Pak Lurah mestinya memperbaiki kehidupan warganya agar makmur, diciptakan lapangan kerja baru, tidak malah mengancam agar rakyat menjual tanahnya karena tidak ada seorangpun warga yang mampu beli perumahan itu sedangkan yang bersengkongkol dapat keuntungan berlipat tapi rakyatnya makin jatuh melarat.
“Jalan pasti dibuatkan,” Pak Bayan menuding ke samping.
“Tapi itu jalan untuk perumahan sendiri. Ingatkan Pak Lurah, jangan hanya berbaik-baik menjelang pemilihan, ngasih duit dan kain, setelah itu rakyat dilupakan karena sibuk mencari pengembalian modal. Dengar tuh gunjingan orang-orang!”
Kutipan di atas, tokoh aku memang terlihat sangat kesal kepada Pak Bayan yang selalu merayu-rayu kepada tokoh aku untuk segera menjual tanahnya. Tetapi tokoh aku tidak mau menjual tanahnya tersebut, malah tokoh aku mengungkit-ungkit masa di mana Pak Lurah baik hati kepada warga saat menjelang pemilihan. Memang semua itu dirasakan oleh semua warga desa. Dan memang benar para pejabat sekarang hanya manis di awal, buat janji-janji tapi tidak pernah ada buktinya. Mungkin itu yang dirasakan oleh tokoh aku dalam cerpen Tahi Lalat di Dada Istri Pak Lurah karya M. Shoim Anwar.
“Di sebelah mana tahi lalatnya?” aku mencoba mengorek kejelasan.
“Besar?”
“Katanya sebesar biji randu.”
“Ooo...,” aku manggut-manggut.
Dari kutipan di atas tampak jelas bahwa tahi lalat di dada istri Pak Lurah memang ada tetapi tokoh aku sepertinya masih belum percaya akan keberadaan tahi lalat tersebut karena dalam kutipan di atas tokoh aku masih mencari informasi yang tepat tentang adanya kabar kalau di dada istri Pak Lurah ada tahi lalatnya. Meskipun orang-orang yang ada di desanya selalu membicarakan tentang istri Pak Lurah dan berita itu menjadi topik utama sebagai bahan obrolan orang-orang. Hingga berita itu menyebar luas ke wilayah lain.
“Di dada istri Pak Lurah ada tahi lalatnya ya?” pertanyaanditeriakkan salah seorang warga. Kali ini aku mencoba menahan diri, tanpa memberi jawaban atau kode.
“Di sebelah kiri ya?” teriakkan itu dilanjutkan
“Sebesar biji randu ya?”
Saat ada orang lewat dan masih belum yakin akan keberadaan tahi lalat di dada istri Pak Lurah pasti orang-orang yang ada di wilayah itu selalu melontarkan pertanyaan dan langsung diteriakkan. Karena tokoh aku percaya bahwa cerita tersebut makin seru dan tidak terbebani karena hukum gosip pun berlaku.
“Tuh kelakuan istri lurahmu!”
“Perempuan kayak gitu jadi Bu Lurah!”
“Rombengan!”
“Prek!”
Kutipan di atas memang termasuk kata-kata yang tidak baik untuk diucapkan. Tetapi karena adanya berita tahi lalat di dada istri Pak Lurah orang-orang desa seakan makin berani untuk melontarkan kata-kata yang kurang baik itu. Kini orang-orang itu makin berani mengejek dan mengolok-olok hingga citra istri Pak Lurah itu direndahkan.
“Begitu kog dibicarakan. Gak pantes,” kata istriku.
“Tak ada gosip tanpa api,” aku membalas.
“Kalau toh benar, pasti orang dekat yang mula-mula menyebarkannya.”
“Ya gak mungkinlah kalau Pak Lurah,” istriku menyengah.
“Tentu bukan dia, tapi orang yang pernah mengetahui dengan pasti.”
Memang benar ketika istri dari tokoh aku itu berbicara, “Begitu kog dibicarakan. Gak pantes,” karena kata-kata yang kurang baik itu dilontarkan apalagi di depan orang banyak dan ada juga anak kecilnya maka akan menimbulkan pertikaian jika orang yang dibicarakan itu mengetahuinya dan bisa menyakiti perasaan orang yang dimaksud yaitu Bu Lurah. Tetapi ketika tokoh aku menjawab pertanyaan sang istri tokoh aku juga ada benarnya karena memang jika tidak ada gosip tanpa api, jadi tidak ada masalah tanpa penyebab. Mungkin orang-orang yang ada di desa itu mengetahui tentang kelakuan istri Pak Lurah di luar sana yang kurang baik. Sehingga mereka punya bukti yang kuat dan mereka selalu membicarakan tentang istri Pak Lurah tanpa berbasa basi lagi.
Sindiran itu kembali dilontarkan saat mendekati masa pendaftaran calon lurah. Ternyata berita tentang tahi lalat yang di dada istri Pak Lurah belum juga menyurut, semakin hari semakin menyebar. Bahkan yang orang-orang bicarakan tidak hanya tahi lalat tetapi mereka juga membicarakan soal telinga, pipi, bibir, leher, perut, bokong, paha, hingga sekujur tubuh istri Pak Lurah mereka bicarakan. Bakrul sengaja memberi bumbu pembicaraan ke arah yang maikn tabu, disertai pula dengan gerakan yang erotis, memperagakan seperti memacu kuda, menirukan suara istri Pak Lurah yang manja, mendesah, dan pada akhirnya orang-orang pun spontan menertawakannya seperti pada kutipan “Gak kuat aku, cuuuk...cuk...”
Selain dilihat dari segi sosial cerpen ”Tahi Lalat di Dada Istri Pak Lurah” karya M. Shoim Anwar juga bisa dikritik dari segi politiknya. Pengarang memunculkan status atau kedudukan sangat mempengaruhi suatu kehidupan. Tokoh Aku merasa kalau dirinya dan warga desa diperlakukan Pak Lurah seperti kompeni karena Pak Lurah selama menjabat, tidak sedikit warga yang kehilangan sawah ladangnya dan berganti dengan perumahan mewah. Warga yang tanahnya berada di tempat strategis, melalui Pak Bayan atau sekretaris desa, dirayu untuk menjual tanahnya yang strategis. Pak Lurah selalu membujuk warga yang lain dengan cara memanggilnya ke kantor kelurahan. Tokoh aku sangat yakin kalau Pak Lurah dapat keuntungan yang banyak dari presentase diam-diam antara dia dengan pihak pembeli.
“Kalau tidak mau menjual akan dipagari oleh pihak pengembang perumahan,” begitulah kata-kata intimidasi yang dilontarkan Pak Bayan kepada penduduk.
Kutipan di atas memang ada unsur politiknya karena jika para penduduk tidak mau menjual sawah miliknya pihak pengembang perumahan akan memagari sawah tersebut. Dengan perkataan tersebut jelas para warga merasa khawatir kalau sawahnya akan berkurang kalau tidak segera dijual. Sehingga para warga akhirnya mau menjual sawah yang dimilikinya tersebut. Pak Lurah pun sering pamer bahwa pembangunan diwilayahnya berjalan dengan cepat, rumah-rumah bagus kini dimiliki penduduknya, mobil juga keluar masuk. Sedangkan di sini tokoh aku tetap kukuh untuk tidak mau menjual sawah miliknya, yang ada tokoh aku sempat berdebat dengan Pak Bayan kalau tokoh aku berharap kalau Pak Lurah mestinya memperbaiki kehidupan warganya agar makmur, diciptakan lapangan kerja baru, tidak malah mengancam agar rakyat menjual tanahnya karena tidak ada seorangpun warga yang mampu beli perumahan itu sedangkan yang bersengkongkol dapat keuntungan berlipat tapi rakyatnya makin jatuh melarat.
“Jalan pasti dibuatkan,” Pak Bayan menuding ke samping.
“Tapi itu jalan untuk perumahan sendiri. Ingatkan Pak Lurah, jangan hanya berbaik-baik menjelang pemilihan, ngasih duit dan kain, setelah itu rakyat dilupakan karena sibuk mencari pengembalian modal. Dengar tuh gunjingan orang-orang!”
Kutipan di atas, tokoh aku memang terlihat sangat kesal kepada Pak Bayan yang selalu merayu-rayu kepada tokoh aku untuk segera menjual tanahnya. Tetapi tokoh aku tidak mau menjual tanahnya tersebut, malah tokoh aku mengungkit-ungkit masa di mana Pak Lurah baik hati kepada warga saat menjelang pemilihan. Memang semua itu dirasakan oleh semua warga desa. Dan memang benar para pejabat sekarang hanya manis di awal, buat janji-janji tapi tidak pernah ada buktinya. Mungkin itu yang dirasakan oleh tokoh aku dalam cerpen Tahi Lalat di Dada Istri Pak Lurah karya M. Shoim Anwar.
Impian yang tak kunjung tersampaikan
Putri Dewanti
"Menelusur Labirinmu"
Memutar-mutar di jalan berliku
Seperti menelusur labirinmu
Ruang parkir tempat segala terpikir
Berulang terlewat bersama dahaga itu
Adakah tujuan selalu membisu
Kita memburu mengulur waktu
Sementara tanganmu yang kelu
Merenggang dari pinggang yang jemu
Kita ulang alik mengunyah jalan yang sama
Mencumbu rindu agar haus tersapu
Lalu melaju
Tapi mengapa selalu ada dejavu
Cinta yang beku mencair dipanggang waktu
Dan kau yang kuburu tak juga ketemu
Memutar-mutar di jalan berliku seperti kesulitan seseorang dalam menemukan sebuah jalan seolah-olah ia berada dalam dinding labirin. Seperti menelusur labirinmu, dia hanya kembali memutar-mutar dalam sebuah keadaan yang sama seperti tak lagi bisa ia pecahkan. Adakah tujuan selalu membisu, Kita memburu mengulur waktu, mungkinkah sebuah tujuan tak dapat dicapai dengan waktu yang sudah ditentukan. Sementara tanganmu yang kelu, sementara ia belum menemukan jalan kearah mimpi tersebut. Kita ulang alik mengunyah jalan yang sama, dan lagi ia kembali dalam kesusahan yang sama. Mencumbu rindu agar haus tersapu, Lalu melaju, mengharapkan sebuah pertolongan (titik terang) menuju mimpi tersebut. Tapi mengapa selalu ada dejavu, tapi yang ada hanyalah kefanaan (khayalan). Cinta yang beku mencair dipanggang waktu, harapan yang diinginkan seolah-olah lekang oleh waktu. Dan kau yang kuburu tak juga ketemu, dan mimpi yang diharap tak jua ia temui (terwujud).
Dari pengamatan yang saya baca puisi yang berjudul Menelusur Labirinmu karya M. Shoim Anwar ini cukup bagus dalam merangkai kata-katanya. Penulis dapat mengemas puisi dengan sangat menarik yaitu dengan cara mengangkat tentang realitas kehidupan yang sering dialami pembaca, diksi yang dipilih menggunakan kata-kata konotasi yang unik, serta terdapat majas hiperbola yaitu melebih-lebihkan sesuatu seperti pada bait kita memburu mengulur waktu dan cinta yang beku mencair dipanggang waktu.
"Menelusur Labirinmu"
Memutar-mutar di jalan berliku
Seperti menelusur labirinmu
Ruang parkir tempat segala terpikir
Berulang terlewat bersama dahaga itu
Adakah tujuan selalu membisu
Kita memburu mengulur waktu
Sementara tanganmu yang kelu
Merenggang dari pinggang yang jemu
Kita ulang alik mengunyah jalan yang sama
Mencumbu rindu agar haus tersapu
Lalu melaju
Tapi mengapa selalu ada dejavu
Cinta yang beku mencair dipanggang waktu
Dan kau yang kuburu tak juga ketemu
Memutar-mutar di jalan berliku seperti kesulitan seseorang dalam menemukan sebuah jalan seolah-olah ia berada dalam dinding labirin. Seperti menelusur labirinmu, dia hanya kembali memutar-mutar dalam sebuah keadaan yang sama seperti tak lagi bisa ia pecahkan. Adakah tujuan selalu membisu, Kita memburu mengulur waktu, mungkinkah sebuah tujuan tak dapat dicapai dengan waktu yang sudah ditentukan. Sementara tanganmu yang kelu, sementara ia belum menemukan jalan kearah mimpi tersebut. Kita ulang alik mengunyah jalan yang sama, dan lagi ia kembali dalam kesusahan yang sama. Mencumbu rindu agar haus tersapu, Lalu melaju, mengharapkan sebuah pertolongan (titik terang) menuju mimpi tersebut. Tapi mengapa selalu ada dejavu, tapi yang ada hanyalah kefanaan (khayalan). Cinta yang beku mencair dipanggang waktu, harapan yang diinginkan seolah-olah lekang oleh waktu. Dan kau yang kuburu tak juga ketemu, dan mimpi yang diharap tak jua ia temui (terwujud).
Dari pengamatan yang saya baca puisi yang berjudul Menelusur Labirinmu karya M. Shoim Anwar ini cukup bagus dalam merangkai kata-katanya. Penulis dapat mengemas puisi dengan sangat menarik yaitu dengan cara mengangkat tentang realitas kehidupan yang sering dialami pembaca, diksi yang dipilih menggunakan kata-kata konotasi yang unik, serta terdapat majas hiperbola yaitu melebih-lebihkan sesuatu seperti pada bait kita memburu mengulur waktu dan cinta yang beku mencair dipanggang waktu.
Langganan:
Komentar (Atom)