Sabtu, 29 Juli 2017

Pertikaian Akibat Kidungan dalam Cerpen Awak Ludruk Karya M. Shoim Anwar

Cerpen merupakan salah satu jenis karya sastra yang memaparkan kisah atau cerita mengenai manusia beserta seluk beluknya lewat tulisan pendek atau singkat. Dalam mengkaji sebuah karya sastra, kita tidak dapat melepaskan diri dari cara pandang yang bersifat parsial, maka ketika mengkaji karya sastra, seringkali seseorang akan memfokuskan perhatiannya hanya kepada aspek-aspek tertentu, misalnya berkenaan dengan persoalan estetika, moralitas, psikologi, masyarakat, beserta dengan aspek-aspeknya yang lebih rinci lagi. Seperti halnya dengan Shoim Anwar menghubungkan karya-karyanya  dengan realitas kehidupan nyata dengan menggunakan bahasa yang dapat dinikmati oleh pembaca. Ludruk adalah pertunjukan seni theater tradisional yang berasal dari Jawa Timur. Cerita yang dibawakan pada pementasan ludruk biasanya cerita rakyat sehari-hari yang diselingi dengan lawakan, bahkan kritik sosial. Ludruk biasanya dipentaskan di panggung besar dengan latar belakang yang sudah dibuat sesuai dengan cerita yang akan dibawakan. Begitu juga dengan kostum yang digunakan, kostum tersebut juga disesuaikan dengan peran masing-masing. Hal itu dilakukan agar terlihat menarik dan dapat menyatu dengan cerita. Dalam pertunjukan ludruk ini biasanya di awali dengan tari ngremo. Tari ngremo adalah tarian tradisional Jawa Timur yang menggambarkan keberanian seorang Pangeran yang berjuang di medan perang. Tari remo ini umumnya dibawakan oleh penari laki-laki dengan gerakan yang menggambarkan seorang pangeran yang gagah berani. Gerakan dalam tari ngremo lebih mengutamakan gerakan kaki yang rancak dan dinamis. Dalam pertunjukannya penari dilengkapi dengan gelang lonceng kecil yang diapsang dipergelangan kaki. Sehingga saat penari melangkah atau menghentakkan kakinya maka lonceng kecil tersebut akan berbunyi. Gerakan tersebut biasanya dipadukan dengan iringan musiknya, sehingga suara lonceng tersebut dapat berpadu dengan musik pengiring. Selain gerakan kaki, yang menjadi karakteristik gerakan tari ngremo adalah gerakan selendang atau sampur, gerakan kepala, ekspresi wajah dan kuda-kuda penari.  Seperti pada kutipan kutipan cerpen Awak Ludruk karya M. Shoim Anwar yang menggambarkan kejadian sesungguhnya yang disalin ke dalam karya sastra.
Sekarang sebuah gerakan diperagakan kembali dengan lebih gesit dan gagah. Dua sayap sampur beterbangan. Asesoris dan segenap perhiasan yang melekat di sekujur tubuhnya memantulkan cahaya gemebyar kuning keemasan.

Dalam pertunjukkan tari ngremo, penari harus bisa memadukan gerakannya dengan musik pengiring. Hal ini dibutuhkan karena bila gerakannya tidak padu, maka suara gelang lonceng di kaki penari akan menimbulkan suara yang tidak pas dengan musik pengiring. Dalam pertunjukan tari ngremo ini biasanya diiringi oleh musik gamelan yang terdiri dari bonang, saron, gambang, gender, sinter, seruling, kethuk, kenong, kempul dan gong. Jenis irama atau gendhing yang dibawakan oleh musik pengiring biasanya seperti jula – juli dan tropongan. Selain itu juga gendhing walangkekek, krucilan, gedok rancak, dan gendhing lainnya. Tari remo biasanya diawali dengan musik yang pelan kemudian semakin menghentak-hentak suara gendang yang menandai bahwa tari remo akan berakhir. Seperti pada kutipan cerpen Awak Ludruk karya M. Shoim Anwar.
Kidung Jula-Juli usai dilantunkan. Irama dan tempo gamelan menaik dan semakin cepat. Suara gendang pun menghentak-hentak sebagai pertanda tari ngremo akan berakhir.

Kidung biasa juga dikenal sebagai tembang, nyanyian jiwa ataupun ungkapan hati dan perasaan. Kidungan adalah gaya nembang asli khas Jawa Timuran yang unik, menggelitik, jenaka, kadang penuh dengan sindiran halus sampai terang-terangan, tidak jarang berupa kritik yang membangun, memotivasi dan tidak jarang juga berupa ejekan yang tidak membuat pendengarnya merasa perlu marah tapi malah tergelitik untuk akhirnya menyadari betapa mengenanya kritikan dalam kidung tersebut. Seperti pada kutipan cerpen Awak Ludruk Karya M. Shoim Anwar.
Baru kali ini pula ia mengalami peristiwa yang menyakitkan itu. Dan ini terjadi justru dia main di desanya sendiri. Sebuah pukulan dan sekaligus hinaan. Dia pun tidak mengira Lurah Bangok bakal meledak. Sebab, di mana pun kidungan ludruk selalu berisi sindiran, kritik, lelucon, ataupun pesan-pesan pembangunan.

Kidungan sering dijadikan sarana ampuh untuk memperbaiki kondisi ataupun kebiasaan pola atau gaya hidup segolongan tertentu dalam masyarakat Jawa Timur yang dianggap tidak pas pada zamannya atau kurang pas dengan adat istiadat. Kidung Jawa Timuran pertama sangat dikenal pada zaman penjajahan Jepang, di mana pada saat itu selepas dari penjajahan Hindia Belanda Indonesia lantas dijajah bangsa Jepang atau Nippon. Waktu itu pahlawan ludruk Jawa Timur yang cukup harum namanya (alm) Cak Durasim melalui kidungannya yang berupa Parik-an atau pantun mengingatkan warga sekitar di mana Cak Durasim pentas untuk menyadari bahwa ikut Nippon ternyata tambah sengsara. Seperti pada kutipan cerpen Awak Ludruk karya M. Shoim Anwar.
Peristiwa yang dialami ini mengingat Cak Codet saat Ludruk Sari Boncet, yang juga dari Jombang, dibubarkan Belanda saat masih main di Bondowoso karena Cak Pono menampilkan kidungan seperti ini:
Jemuah legi nyang Pasar Genteng,
Tuku apel nyang Wonokromo,
Merah-Putih Kepala Banteng,
Benderane dokter soetomo,
(Jumat legi ke Pasar Genteng/Beli apel ke Wonokromo/Merah-Putih Kepala Banteng/Benderanya dokter Soetomo)
Cak codet pun segera ingat peristiwa yang pernah dialami oleh Cak Durasim di Surabaya. Cak Durasim diringkus Jepang karena menampilkan parikan:
Pagupon umahe dara,
Melok Nippon tambah sengsara,
(Pagupon rumah burung dara/Ikut Nippon tambah sengsara.)

Dari beberapa kutipan yang dibahas di atas maka dapat disimpulkan bahwa cerpen Awak Ludruk karya M. Shoim Anwar banyak mengaplikasikan pendekatan mimetik yaitu pengarang terinspirasi terhadap kehidupan nyata lebih tepatnya terhadap kesenian Ludruk dari Jawa Timur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar