Cerpen merupakan salah satu jenis karya sastra yang memaparkan kisah atau cerita mengenai manusia beserta seluk beluknya lewat tulisan pendek atau singkat. Dalam mengkaji sebuah karya sastra, kita tidak dapat melepaskan diri dari cara pandang yang bersifat parsial, maka ketika mengkaji karya sastra, seringkali seseorang akan memfokuskan perhatiannya hanya kepada aspek-aspek tertentu, misalnya berkenaan dengan persoalan estetika, moralitas, psikologi, masyarakat, beserta dengan aspek-aspeknya yang lebih rinci lagi. Seperti halnya dengan Shoim Anwar menghubungkan karya-karyanya dengan realitas kehidupan nyata dengan menggunakan bahasa yang dapat dinikmati oleh pembaca. Ludruk adalah pertunjukan seni theater tradisional yang berasal dari Jawa Timur. Cerita yang dibawakan pada pementasan ludruk biasanya cerita rakyat sehari-hari yang diselingi dengan lawakan, bahkan kritik sosial. Ludruk biasanya dipentaskan di panggung besar dengan latar belakang yang sudah dibuat sesuai dengan cerita yang akan dibawakan. Begitu juga dengan kostum yang digunakan, kostum tersebut juga disesuaikan dengan peran masing-masing. Hal itu dilakukan agar terlihat menarik dan dapat menyatu dengan cerita. Dalam pertunjukan ludruk ini biasanya di awali dengan tari ngremo. Tari ngremo adalah tarian tradisional Jawa Timur yang menggambarkan keberanian seorang Pangeran yang berjuang di medan perang. Tari remo ini umumnya dibawakan oleh penari laki-laki dengan gerakan yang menggambarkan seorang pangeran yang gagah berani. Gerakan dalam tari ngremo lebih mengutamakan gerakan kaki yang rancak dan dinamis. Dalam pertunjukannya penari dilengkapi dengan gelang lonceng kecil yang diapsang dipergelangan kaki. Sehingga saat penari melangkah atau menghentakkan kakinya maka lonceng kecil tersebut akan berbunyi. Gerakan tersebut biasanya dipadukan dengan iringan musiknya, sehingga suara lonceng tersebut dapat berpadu dengan musik pengiring. Selain gerakan kaki, yang menjadi karakteristik gerakan tari ngremo adalah gerakan selendang atau sampur, gerakan kepala, ekspresi wajah dan kuda-kuda penari. Seperti pada kutipan kutipan cerpen Awak Ludruk karya M. Shoim Anwar yang menggambarkan kejadian sesungguhnya yang disalin ke dalam karya sastra.
Sekarang sebuah gerakan diperagakan kembali dengan lebih gesit dan gagah. Dua sayap sampur beterbangan. Asesoris dan segenap perhiasan yang melekat di sekujur tubuhnya memantulkan cahaya gemebyar kuning keemasan.
Dalam pertunjukkan tari ngremo, penari harus bisa memadukan gerakannya dengan musik pengiring. Hal ini dibutuhkan karena bila gerakannya tidak padu, maka suara gelang lonceng di kaki penari akan menimbulkan suara yang tidak pas dengan musik pengiring. Dalam pertunjukan tari ngremo ini biasanya diiringi oleh musik gamelan yang terdiri dari bonang, saron, gambang, gender, sinter, seruling, kethuk, kenong, kempul dan gong. Jenis irama atau gendhing yang dibawakan oleh musik pengiring biasanya seperti jula – juli dan tropongan. Selain itu juga gendhing walangkekek, krucilan, gedok rancak, dan gendhing lainnya. Tari remo biasanya diawali dengan musik yang pelan kemudian semakin menghentak-hentak suara gendang yang menandai bahwa tari remo akan berakhir. Seperti pada kutipan cerpen Awak Ludruk karya M. Shoim Anwar.
Kidung Jula-Juli usai dilantunkan. Irama dan tempo gamelan menaik dan semakin cepat. Suara gendang pun menghentak-hentak sebagai pertanda tari ngremo akan berakhir.
Kidung biasa juga dikenal sebagai tembang, nyanyian jiwa ataupun ungkapan hati dan perasaan. Kidungan adalah gaya nembang asli khas Jawa Timuran yang unik, menggelitik, jenaka, kadang penuh dengan sindiran halus sampai terang-terangan, tidak jarang berupa kritik yang membangun, memotivasi dan tidak jarang juga berupa ejekan yang tidak membuat pendengarnya merasa perlu marah tapi malah tergelitik untuk akhirnya menyadari betapa mengenanya kritikan dalam kidung tersebut. Seperti pada kutipan cerpen Awak Ludruk Karya M. Shoim Anwar.
Baru kali ini pula ia mengalami peristiwa yang menyakitkan itu. Dan ini terjadi justru dia main di desanya sendiri. Sebuah pukulan dan sekaligus hinaan. Dia pun tidak mengira Lurah Bangok bakal meledak. Sebab, di mana pun kidungan ludruk selalu berisi sindiran, kritik, lelucon, ataupun pesan-pesan pembangunan.
Kidungan sering dijadikan sarana ampuh untuk memperbaiki kondisi ataupun kebiasaan pola atau gaya hidup segolongan tertentu dalam masyarakat Jawa Timur yang dianggap tidak pas pada zamannya atau kurang pas dengan adat istiadat. Kidung Jawa Timuran pertama sangat dikenal pada zaman penjajahan Jepang, di mana pada saat itu selepas dari penjajahan Hindia Belanda Indonesia lantas dijajah bangsa Jepang atau Nippon. Waktu itu pahlawan ludruk Jawa Timur yang cukup harum namanya (alm) Cak Durasim melalui kidungannya yang berupa Parik-an atau pantun mengingatkan warga sekitar di mana Cak Durasim pentas untuk menyadari bahwa ikut Nippon ternyata tambah sengsara. Seperti pada kutipan cerpen Awak Ludruk karya M. Shoim Anwar.
Peristiwa yang dialami ini mengingat Cak Codet saat Ludruk Sari Boncet, yang juga dari Jombang, dibubarkan Belanda saat masih main di Bondowoso karena Cak Pono menampilkan kidungan seperti ini:
Jemuah legi nyang Pasar Genteng,
Tuku apel nyang Wonokromo,
Merah-Putih Kepala Banteng,
Benderane dokter soetomo,
(Jumat legi ke Pasar Genteng/Beli apel ke Wonokromo/Merah-Putih Kepala Banteng/Benderanya dokter Soetomo)
Cak codet pun segera ingat peristiwa yang pernah dialami oleh Cak Durasim di Surabaya. Cak Durasim diringkus Jepang karena menampilkan parikan:
Pagupon umahe dara,
Melok Nippon tambah sengsara,
(Pagupon rumah burung dara/Ikut Nippon tambah sengsara.)
Dari beberapa kutipan yang dibahas di atas maka dapat disimpulkan bahwa cerpen Awak Ludruk karya M. Shoim Anwar banyak mengaplikasikan pendekatan mimetik yaitu pengarang terinspirasi terhadap kehidupan nyata lebih tepatnya terhadap kesenian Ludruk dari Jawa Timur.
Sabtu, 29 Juli 2017
Sabtu, 22 Juli 2017
“Dibalik Kekerasan Orang Madura dalam Cerpen Lelaki Dalam Kerapan Karya M. Shoim Anwar”
Cerpen merupakan salah satu jenis karya sastra yang memaparkan kisah atau cerita mengenai manusia beserta seluk beluknya lewat tulisan pendek atau singkat. Sosiologi sastra merupakan pendekatan yang bertolak pada orientasi kepada semesta, namun bisa juga bertolak dari orientasi kepada pengarang dan pembaca. Menurut pendekatan sosiologi sastra, karya sastra dapat dilihat hubungannya dengan kenyataan, sejauh mana karya sastra itu mencerminkan kenyataan. Kenyataan di sini mengandung arti yang cukup luas, yakni segala sesuatu yang berada di luar karya sastra dan yang diacu karya sastra. Teori sosiologi sastra tidak semata-mata digunakan untuk menjelaskan kenyataan sosial yang dipindahkan atau disalin pengarang dalam sebuah karya sastra. Teori ini juga digibahkan untuk menganalisis hubungan wilayah budaya pengarang dengan karyanya, hubungan karya sastra dengan suatu kelompok sosial, hubungan antara selera massa, dan kualitas suatu ciptaan karya sastra serta hubungan gejala-gejala sosial yang timbul di sekitar pengarang dengan karyanya, Rene Wellek dan Austin Warren (dalam Semi, 1989:53).
Seperti halnya dengan Shoim Anwar menghubungkan karya-karyanya dengan realitas kehidupan nyata dengan menggunakan bahasa yang dapat dinikmati oleh pembaca. Dalam cerpen Lelaki Dalam Kerapan karya M. Shoim Anwar sangat lekat sekali dengan dunia nyata. Shoim Anwar menulis cerpen ini dengan menggunakan latar Madura dan budayanya. Mendengar kata “Orang Madura”, maka pertama kali yang tergambar adalah paradoks dari keluguan dan kecerdasan, kesombongan dan kekonyolan, serta kekerasan sekaligus kelucuan. Simbol bagi orang Madura yang menjadi ciri khas tidak hanya dapat dilihat dari sikap kerasnya saja. Anggapan orang-orang yang demikian dan tidak mengenal benar siapa orang Madura selalu mempunyai perspektif “keras” dan lain-lain. Kenyataannya, orang Madura yang dikenal arogan, ternyata mempunyai watak yang lembut, sopan, santun dan menghargai terhadap orang lain. Di sana, ungkapan yang harus diperhatikan terhadap orang Madura antara sikap “ketegasan” dan “kekerasan”. Kedua kata ini mempunyai makna yang sangat tipis sekaligus tebal dalam pemahamannya. Barangkali, perlu adanya pemahaman yang selalu muncul dari pikiran, sikap, dan tindakan orang Madura dari dua kata tersebut. Dua kata benda—yang berasal dari kata sifat ”tegas” dan ”keras” yang dikaitkan dengan sikap dan perilaku ini harus dibedakan secara konseptual maupun praksis. “Keras” menunjukkan sifat perilaku berkebalikan dengan perilaku ”lembut”, sehingga segala sesuatu harus dihadapi dengan penuh emosi, mengabaikan akal budi dan etika sopan santun (asal kemauannya dituruti). Dalam konteks yang sama ”tegas” mengandung makna perilaku memegang prinsip yang diyakini sehingga tidak dengan mudah terombang-ambing oleh kondisi dan situasi sekelilingnya. Seperti pada cerpen Lelaki Dalam Kerapan karya M. Shoim Anwar yang menceritakan pada budaya yang disajikan secara estetik. Di sini, dalam narasi yang disajikan, terdapat hiruk pikuk “kekerasan” orang Madura dalam menyikapi suatu hal. Kerapan Sapi adalah kontes sepasang sapi jantan yang diadu kecepatan larinya dengan ditunggangi oleh seorang lelaki di atas kaleles yang disebut joki. Kontes ini merupakan budaya orang Madura. Kerapan Sapi hadir dengan sudut pandang orang ketiga. Dalam cerpen khususnya, sudut pandang atau pusat pengisahan (point of view) dipergunakan untuk menentukan arah pandang pengarang terhadap peristiwa-peristiwa di dalam cerita sehingga tercipta satu kesatuan cerita yang utuh (Sayuti, 2000:158).
Cerpen ini mengisahkan Saleh sebagai tokoh yang menjadi joki Kerapan Sapi yang berasal dari Sumenep. Menjadi joki Kerapan Sapi harus menguasai beberapa teknik menunggang sapi agar sapi yang ditungganginya bisa menang dalam pertandingan. Namun, pada pertandingan kali ini sapi yang ditungganginya kalah dan tidak bisa masuk final. Akibat sapi yang ditungganginya kalah salah seorang bernama Pak Uswak sempat tidak percaya dan ia merasa kecewa karena sapi yang dijagokan tumbang, dengan cepat Pak Uswak mengeluarkan sesuatu dari sakunya dan diremas-remas, mulutnya komat-kamit, setelah itu dia berjalan mengitari lapangan. Akhirnya waktu babak final sudah mau dimulai dan beberapa dari penonton ada yang bertaruh sapi mana yang menang. Namun, ditengah-tengah keramaian diumumkan kalau ada salah satu wakil rombongan dari Sumenep akan menampilkan satu acara selingan berupa pembacaan sajak. Ternyata yang membaca sajak itu adalah Saleh, dia akan membacakan sajak dari penyair asal Batang-Batang, Sumenep, yang berjudl Sapi Hitam. Setelah pembacaan sajak selesai tiba-tiba Pak Uswak mendekat dan merebut sajak ditangan Saleh. Kemudian Pak Uswak membaca sajak itu dan dipahaminya, ia membaca berulang-ulang dan memahami kata demi kata. Pada saat pertandingan final sudah selesai Pak Uswak tidak setuju dengan hasil final pertandingan kerapan sapi tersebut karena Pak Uswak mengetahui ada kecurangan dibalik pertandingan itu namun juri tidak percaya dan berakhir dengan bentrok sehingga menyebabkan kekerasan dengan menyabet-nyabetkan celurit hingga robek antara Pak Uswak dengan penunggang asal Pamekasan.
Wujud kekerasan dalam cerpen Lelaki Dalam Kerapan mulai muncul ketika kontes final sudah selesai. Sementara beberapa orang terpental dan terkapar di tanah, meraung-raung. Dua orang yang terjatuh kelihatan mengeluarkan darah sedangkan seorang lagi jempalikan di tanah. Seketika itu tokoh “Pak Uswak” berlari-lari mendekat ke tempat finis untuk meminta keadilan tentang pemenang tanpa ada kecurangan. seperti pada kutipan cerpen.
“Bapak jangan cerewet”
“Saya tidak cerewet” Pak Uswak semakin tegas.
“Hakim sudah menyatakan sah!”
“Hakim itu tak tahu persoalannya!” Saya yang tahu!”
“Tidak bisa! Tetap sah! Pamekasan menang!”
“Tidak sah!”
“Sah!”
“Tidak sah!”
“Sah!”
“Tidak sah!”
Kekerasan di Madura tidak bisa dipungkiri keberadaannya yang bersumber dari berbagai cerita-cerita dalam bentuk tulisan (karya) maupun lisan (visual). Itu sebabnya, kata Madura, Celurit, Carok, Darah menjadi hal yang menakutkan dan mengerikan. Predikat “keras” yang diperuntukkan orang Madura menjadi hal yang ekstrem di telinga kebanyakan orang luar. Alih-alih berkunjung ke pulau garam itu, berinteraksi dengan orang Madura saja bagi orang-orang menjadi sesuatu yang harus disegani atau dihindari. Seperti pada kutipan cerpen.
Begitu cepatnya Pak Uswak mengeluarkan sebilah celurit ukuran kecil dari balik bajunya sebelah samping. Dengan cepat pula dia menyabet penunggang asal Pamekasan. Penunggang itu sempoyongan, tapi sekali lagi Pak Uswak membabatnya hingga penunggang yang bernama Taher itu roboh ke tanah karena perutnya robek. Pak Uswak menyabet-nyabetkan celuritnya. Suasananya kacau dan terdengar ada yang menjerit.
“Jangan tangisi kalau ia mati sebab matinya matimu pula!” Kata Pak Uswak sambil berkacak pinggang dan matanya terbakar.
Kembali Pak Uswak mau membedah lelaki yang sudah tumbang itu, tapi tiba-tibapula seorang lelaki lain membabat Pak Uswak dari belakang. Ternyata dia adalah pemilik sapi dari Pamekasan. Pak Uswak seketika berbalik arah meski sesungguhnya telah robek. Mengetahui bahwa penunggang sewaannya bercucuran darah, pemilik sapi ini seperti kesetanan saja. Sekali lagi Pak Uswak ditebas bagian perutnya, lalu lehernya. Pak Uswak sempoyongan. Celurit di tangannya jatuh ke tanah. Dan sekali lagi pemilik sapi itu menebas leher Pak Uswak. Pak Uswak pun seketika roboh dan tengkurap di tanah yang kering. Darah mengalir. Leher lelaki itu sebentar lagi patah. Celurit telah bicara.
Seperti halnya dengan Shoim Anwar menghubungkan karya-karyanya dengan realitas kehidupan nyata dengan menggunakan bahasa yang dapat dinikmati oleh pembaca. Dalam cerpen Lelaki Dalam Kerapan karya M. Shoim Anwar sangat lekat sekali dengan dunia nyata. Shoim Anwar menulis cerpen ini dengan menggunakan latar Madura dan budayanya. Mendengar kata “Orang Madura”, maka pertama kali yang tergambar adalah paradoks dari keluguan dan kecerdasan, kesombongan dan kekonyolan, serta kekerasan sekaligus kelucuan. Simbol bagi orang Madura yang menjadi ciri khas tidak hanya dapat dilihat dari sikap kerasnya saja. Anggapan orang-orang yang demikian dan tidak mengenal benar siapa orang Madura selalu mempunyai perspektif “keras” dan lain-lain. Kenyataannya, orang Madura yang dikenal arogan, ternyata mempunyai watak yang lembut, sopan, santun dan menghargai terhadap orang lain. Di sana, ungkapan yang harus diperhatikan terhadap orang Madura antara sikap “ketegasan” dan “kekerasan”. Kedua kata ini mempunyai makna yang sangat tipis sekaligus tebal dalam pemahamannya. Barangkali, perlu adanya pemahaman yang selalu muncul dari pikiran, sikap, dan tindakan orang Madura dari dua kata tersebut. Dua kata benda—yang berasal dari kata sifat ”tegas” dan ”keras” yang dikaitkan dengan sikap dan perilaku ini harus dibedakan secara konseptual maupun praksis. “Keras” menunjukkan sifat perilaku berkebalikan dengan perilaku ”lembut”, sehingga segala sesuatu harus dihadapi dengan penuh emosi, mengabaikan akal budi dan etika sopan santun (asal kemauannya dituruti). Dalam konteks yang sama ”tegas” mengandung makna perilaku memegang prinsip yang diyakini sehingga tidak dengan mudah terombang-ambing oleh kondisi dan situasi sekelilingnya. Seperti pada cerpen Lelaki Dalam Kerapan karya M. Shoim Anwar yang menceritakan pada budaya yang disajikan secara estetik. Di sini, dalam narasi yang disajikan, terdapat hiruk pikuk “kekerasan” orang Madura dalam menyikapi suatu hal. Kerapan Sapi adalah kontes sepasang sapi jantan yang diadu kecepatan larinya dengan ditunggangi oleh seorang lelaki di atas kaleles yang disebut joki. Kontes ini merupakan budaya orang Madura. Kerapan Sapi hadir dengan sudut pandang orang ketiga. Dalam cerpen khususnya, sudut pandang atau pusat pengisahan (point of view) dipergunakan untuk menentukan arah pandang pengarang terhadap peristiwa-peristiwa di dalam cerita sehingga tercipta satu kesatuan cerita yang utuh (Sayuti, 2000:158).
Cerpen ini mengisahkan Saleh sebagai tokoh yang menjadi joki Kerapan Sapi yang berasal dari Sumenep. Menjadi joki Kerapan Sapi harus menguasai beberapa teknik menunggang sapi agar sapi yang ditungganginya bisa menang dalam pertandingan. Namun, pada pertandingan kali ini sapi yang ditungganginya kalah dan tidak bisa masuk final. Akibat sapi yang ditungganginya kalah salah seorang bernama Pak Uswak sempat tidak percaya dan ia merasa kecewa karena sapi yang dijagokan tumbang, dengan cepat Pak Uswak mengeluarkan sesuatu dari sakunya dan diremas-remas, mulutnya komat-kamit, setelah itu dia berjalan mengitari lapangan. Akhirnya waktu babak final sudah mau dimulai dan beberapa dari penonton ada yang bertaruh sapi mana yang menang. Namun, ditengah-tengah keramaian diumumkan kalau ada salah satu wakil rombongan dari Sumenep akan menampilkan satu acara selingan berupa pembacaan sajak. Ternyata yang membaca sajak itu adalah Saleh, dia akan membacakan sajak dari penyair asal Batang-Batang, Sumenep, yang berjudl Sapi Hitam. Setelah pembacaan sajak selesai tiba-tiba Pak Uswak mendekat dan merebut sajak ditangan Saleh. Kemudian Pak Uswak membaca sajak itu dan dipahaminya, ia membaca berulang-ulang dan memahami kata demi kata. Pada saat pertandingan final sudah selesai Pak Uswak tidak setuju dengan hasil final pertandingan kerapan sapi tersebut karena Pak Uswak mengetahui ada kecurangan dibalik pertandingan itu namun juri tidak percaya dan berakhir dengan bentrok sehingga menyebabkan kekerasan dengan menyabet-nyabetkan celurit hingga robek antara Pak Uswak dengan penunggang asal Pamekasan.
Wujud kekerasan dalam cerpen Lelaki Dalam Kerapan mulai muncul ketika kontes final sudah selesai. Sementara beberapa orang terpental dan terkapar di tanah, meraung-raung. Dua orang yang terjatuh kelihatan mengeluarkan darah sedangkan seorang lagi jempalikan di tanah. Seketika itu tokoh “Pak Uswak” berlari-lari mendekat ke tempat finis untuk meminta keadilan tentang pemenang tanpa ada kecurangan. seperti pada kutipan cerpen.
“Bapak jangan cerewet”
“Saya tidak cerewet” Pak Uswak semakin tegas.
“Hakim sudah menyatakan sah!”
“Hakim itu tak tahu persoalannya!” Saya yang tahu!”
“Tidak bisa! Tetap sah! Pamekasan menang!”
“Tidak sah!”
“Sah!”
“Tidak sah!”
“Sah!”
“Tidak sah!”
Kekerasan di Madura tidak bisa dipungkiri keberadaannya yang bersumber dari berbagai cerita-cerita dalam bentuk tulisan (karya) maupun lisan (visual). Itu sebabnya, kata Madura, Celurit, Carok, Darah menjadi hal yang menakutkan dan mengerikan. Predikat “keras” yang diperuntukkan orang Madura menjadi hal yang ekstrem di telinga kebanyakan orang luar. Alih-alih berkunjung ke pulau garam itu, berinteraksi dengan orang Madura saja bagi orang-orang menjadi sesuatu yang harus disegani atau dihindari. Seperti pada kutipan cerpen.
Begitu cepatnya Pak Uswak mengeluarkan sebilah celurit ukuran kecil dari balik bajunya sebelah samping. Dengan cepat pula dia menyabet penunggang asal Pamekasan. Penunggang itu sempoyongan, tapi sekali lagi Pak Uswak membabatnya hingga penunggang yang bernama Taher itu roboh ke tanah karena perutnya robek. Pak Uswak menyabet-nyabetkan celuritnya. Suasananya kacau dan terdengar ada yang menjerit.
“Jangan tangisi kalau ia mati sebab matinya matimu pula!” Kata Pak Uswak sambil berkacak pinggang dan matanya terbakar.
Kembali Pak Uswak mau membedah lelaki yang sudah tumbang itu, tapi tiba-tibapula seorang lelaki lain membabat Pak Uswak dari belakang. Ternyata dia adalah pemilik sapi dari Pamekasan. Pak Uswak seketika berbalik arah meski sesungguhnya telah robek. Mengetahui bahwa penunggang sewaannya bercucuran darah, pemilik sapi ini seperti kesetanan saja. Sekali lagi Pak Uswak ditebas bagian perutnya, lalu lehernya. Pak Uswak sempoyongan. Celurit di tangannya jatuh ke tanah. Dan sekali lagi pemilik sapi itu menebas leher Pak Uswak. Pak Uswak pun seketika roboh dan tengkurap di tanah yang kering. Darah mengalir. Leher lelaki itu sebentar lagi patah. Celurit telah bicara.
Langganan:
Komentar (Atom)